Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Strategis
Kenapa Perusahaan di Sidoarjo, Kuroma engineering, bisa, tetapi PAL & BPPT belum bisa ?
Senin, 02 Februari 09 - by : Triharyo (Hengki)

Pada hari Sabtu 31 Januari 2009, pak Purnomo, Menteri ESDM sempat meresmikan pabrik pembuatan minyak pelumas milik PT Pertamina di Gresik (foto dikiri dari Detik Finance). Dalam kesempatan tersebut secara pribadi saya tunjukan kepada pak Purnomo tentang peralatan-peralatan yang kami gunakan di pabrik yang lumayan canggih tersebut karena kebetulan perusahaan kami adalah kontraktor utama pembangunan proyek Lube Oil Blending Plant (LOBP) di Gresik ini.

Saya informasikan ke beliau bahwa sistem peralatan yang cukup kompleks, misalnya untuk mengisi minyak pelumas kedalam kemasan 0,8 liter sampai kedalam drum, dibuat sepenuhnya di Sidoarjo oleh para insinyur Indonesia di PT Kuroma engineering (foto dikanan). Pak Purnomo sempat mengeluarkan kacamatanya dari dalam sakunya, dan membaca sendiri merk-merk di masing-masing peralatan tersebut. Saya juga mengajak beliau untuk melihat peralatan pemanas minyak pelumas yang dibuat oleh United Heater Industry di Tangerang. Sambil berkeliling pabrik, saya terus menerus tunjukan satu persatu kepada para tamu, alat-alat yang dibuat di dalam negeri. Sehingga kandungan lokal proyek ini bisa melebihi 70%.

Kemudian dalam press conference setelah peresmian pabrik, pak Purnomo menyampaikan bahwa beliau melihat sendiri bahwa peralatan-peralatan yang digunakan adalah buatan Sidoarjo dan Tanggerang. Sehingga dengan tambahan pabrik minyak pelumas di Gresik ini, PT Pertamina mampu mulai mengekspor produk minyak pelumas ke berbagai Negara. Sebuah lompatan ganda penerapan teknologi Indonesia dan kemandirian bangsa, yaitu menggunakan peralatan produksi dalam negeri untuk menghasilkan produk yang bisa diekspor.

Setelah berdoa dan bersyukur dengan seluruh team proyek di Gresik, Sabtu sore saya kembali ke Jakarta dengan rasa sangat gembira. Di lapangan terbang Surabaya, saya sempat membeli surat kabal lokal (Surya pos) yang memberitakan bahwa ratusan insinyur dari PT PAL kabur diantaranya ke Malaysia. Terus terang rasa kegembiraan saya langsung lenyap. Sedih sekali saya membaca berita ini. Lalu di internet saya baca berita lain tentang keuangan PT PAL yang perlu diselamatkan oleh negara. Berita tentang PT PAL ini juga mengingatkan saya pada “ancaman pembubaran” dari pak Jusuf Kalla kepada BPPT & Ristek yang beliau sampaikan hampir setiap tahun, misalnya di tahun 2007. Lalu kemudian ancaman serupa diulang lagi oleh beliau disaat menemui Ketua BPPT yang baru (Dr Marzan) di awal tahun 2009 karena rupanya BPPT memerlukan dana hampir Rp 500 milyard setiap tahunnya.

Pertanyaan yang terngiang-ngiang di telinga saya adalah kenapa perusahaan-perusahaan Indonesia yang berisikan insinyur-insinyur Indonesia, di satu sisi mampu menghasilkan produk-produk teknologi tinggi, menghasilkan produk-produk yang kompetitif ,dan karya-karyanya memberikan solusi kepada bangsa seperti Kuroma engineering. Namun disisi lain ada perusahaan-perusahan Indonesia ataupun institusi Indonesia yang berisi insinyur-insinyur Indonesia juga, justru nampaknya menjadi beban pemerintah.

Insinyur Indonesia, terutama alumni ITB, perlu bersama-sama mencari benang merah ini dan menemukan solusinya segera.

Salam
Hengki

____________________________________________

From: Triharyo Soesilo
Sent: Tuesday, February 03, 2009 7:31 AM
To: itb77@bhaktiganesha.or.id; IA-ITB@yahoogroups.com; iaitbjakarta@yahoogroups.com
Subject: [itb77] FW: [IA-ITB] Kenapa Perusahaan di Sidoarjo, Kuroma engineering, bisa, tetapi PAL & BPPT belum bisa


Rekan-rekan
Berikut saya forward beberapa e-mail dari berbagai milis yang merespond terhadap e-mail atau tulisan saya yang lalu. Ada sebuah fenomena yang menarik dalam diskusi-diskusi di beberapa milis terhadap tulisan saya tersebut. Kira-kira diskusinya begini :

  • Tanggapan dari para alumni muda ITB, memperdebatkan bagian tulisan saya yang membahas tentang larinya para insinyur Indonesia ke luar negeri. Mungkin dalam “psyche” para insinyur muda tersebut, ada perdebatan dalam diri mereka, “…kalau memang bisa bekerja di luar negeri dengan gaji yang lebih tinggi …emangnya kenapa, sih ?. Apalagi kalau berkarya sebagai seorang ‘insinyur betulan’ & bekerja di Indonesia terasa relatif sangat sulit ”.
  • Sedangkan Milis yang umumnya berisikan para alumni senior ITB, memperdebatkan peran insinyur dan membandingkannya dengan peran non-insinyur. Pembahasan para alumni senior ini umumnya lebih “reflektif” terhadap karier mereka selama ini. Mungkin dalam “psyche” para insinyur senior juga ada perdebatan dalam dirinya, “….apa ya peran saya sebagai seorang insinyur selama ini & apa kekurangan atau kelemahan-kelemahan para insinyur Indonesia ?”.

Mungkin saya salah, tapi dari beberapa sampel tulisan, nampaknya memang sedang terjadi fenomena “para insinyur Indonesia seperti kehilangan peran untuk berkarya di negerinya dan memberikan sumbangsih yang nyata”. Sehingga Dirjen Dikti Fasli Jalal mensinyalir bahwa saat ini sedang terjadi sebuah trend yang mengkhawatirkan, yaitu para lulusan terbaik SMA tidak ingin menjadi insinyur (e-mail beliau dibawah). Beliau minta saran dari kita semua.

Walaupun mungkin agak berlebihan, namun saya masih berpandangan bahwa para insinyur adalah pencipta-pencipta nilai tambah yang sebenarnya. Mereka adalah pemberi-pemberi solusi bagi bangsa. Mari kita bersama-sama mengembalikan kecintaan dan juga sumbangsih nyata dari peran keinsinyuran di Indonesia.

Salam
Hengki
________________________________

From: IA-ITB@yahoogroups.com On Behalf Of Gunawan BZ
Sent: Monday, February 02, 2009 2:37 PM
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Subject: RE: [IA-ITB] Kenapa Perusahaan di Sidoarjo, Kuroma engineering, bisa, tetapi PAL & BPPT belum bisa


Kebetulan saya yang terlibat langsung dengan pembangunan Proyek LOBP ini, jadi saya tahu persis apa dan siapa KUROMA dan perusahaan yang lain, saya sependapat dengan Mas Hengky ( Triharyo ), bahwa Insinyur2 kita SEHARUSNYA bukan hanya sebagai PEKERJA tapi harus sebagai ujung tombak  untuk memperluas bidang pekerjaan.

Saya mengenal secara Pribadi Pak Faturochman, pemilik sekaligus otak dari Kuroma Engineering, beliau ini bukan lulusan Sarjana , apalagi Sarjana ITB tetapi bisa membawahi para Insinyur untuk menciptakan produk mesin pengemas yang berguna bagi pabrik2 antara lain : Pabrik Kecap Bango , pabrik2 di Unilever dan beberapa pabrik yang lain, Kami mengelari Pak Rochman ini MC GYVER , karena apapun tugasnya beliau sanggup melaksanakannya.

Point penjelasan saya adalah bahwa : kita sebagai engineer harus bisa menguasai / mengerti semua peralatan / mesin yang kita pakai sehingga dalam waktu yg singkat kitabisa membuatnya sebagai hasil karya kita, jangan hanya bisa membeli dan memakai saja sementara yang menguasai adalah bangsa Asing. Para Insinyur boleh2 saja bekerja di luar negeri tetapi pada waktunya harus kembali ke Indonesia untuk membangun Indonesia berdasarkan pengalamannya dan bisa bertindak sebagai Enterpreneur yang tangguh.

Kesan yang didapat bahwa para Insinyur beramai2 pindah keluar negeri adalah hanya untuk mendapatkan Gaji besar dan hidup mapan ( mudah2an saya salah menilainya ), jadi yang perlu ditambahkan adalah semangat Enterpreneur dan kemandirian.

Kita memerlukan Faturochman2 yang banyak untuk membangun negeri ini dan please kepada  para pengguna/pemilik industri menolong Faturochman2 untuk bisa berkembang, dan barangkali Mas Hengky bisa memelopori BUMN2 untuk bisa memakai produk dalam negeri.

NB : saya yakin bahwa berapapun banyaknya devisa yg didapat dari para TKI 2 yg Sarjana akan lebih banyak devisa yg didapat dan lebih bermanfaat bila kita buat sendiri mesin2 kita karena mesin2 yang dibuat didalam negeri harganya 25 % - 40 % dari harga mesin2 luar negeri  yg berarti menghemat devisa dan memperpandai para Insinyur2 kita dan multiplier effect lainnya dari industri2 pelengkap sampai pada penjual nasi disekitar pabrik.

Buat Mas Hengky dan teman2 Rekind, terimakasih atas bantuannya dan berkat kerjasama yang baik sehingga pabrik pelumas ini bisa terwujud .
Salam saya buat Bapak2 Eddy Herman ( TK ITB 76 ), dadang Asikin ( MS ITB 88 ) , Adi Sutopo ( UGM ), Wida ( SI ITB ), Fauzi ( ITS ), Taqwawan dan semua kawan2 dari rekind yg terlibat dalam proyek ini.

GUNAWAN BADARULZAMAN
( TI ITB 78 )

-----Original Message-----
From: IA-ITB@yahoogroups.com On Behalf Of Anton Akhiar
Sent: Monday, February 02, 2009 11:21 AM
To: IA-ITB@yahoogroups.com
Subject: Re: [IA-ITB] Kenapa Perusahaan di Sidoarjo, Kuroma engineering, bisa, tetapi PAL & BPPT belum bisa


Saya jadi penasaran, berapa sih devisa yang di hasilkan per kepala insinyur yang kerja di LN? Coba kita analisa dengan sedikit bumbu ngawur dan sumber referensi yang tak jelas. Anggaplah seorang engineer di LN dihargai 6rb USD/bulan, biaya hidup kira 2-3rb USD/bulan, jadi devisa yang masuk kira-kira 2an USD/bulan.
Namun hasil kerja/keuntungan yang diterima perusahaan dari si pekerja tersebut bisa lebih dari 10-20rb USD/bulan. Bayangkan kalau "brain" ini di pakai untuk ngebor minyak dan menghasilkan jutaan dolar, nilai "brain" ini menjadi tak ternilai bukan? dalam hal ini sudah jelas "brain drain" merugikan negara. Jadi menurut saya nggak ada alasan buat justifikasi brain drain.

Wassalam

2009/2/1 setiawan wahyu :
> Mas Tri haryo wrote:
>
>>>>>>> Di lapangan terbang Surabaya , saya sempat membeli surat kabal lokal
>>>>>>> (Surya pos) yang memberitakan bahwa ratusan insinyur dari PT PAL kabur
>>>>>>> diantaranya ke Malaysia . Terus terang rasa kegembiraan saya langsung
>>>>>>> lenyap. Sedih sekali saya membaca berita ini.<<<<<<
>
Kok bisa sedih mas Tri ? Bukannya gembira mereka bisa jadi TKI di Malaysia. Presiden Republik Indonesia saja menganugerahkan sebutan "Pahlawan Devisa" pada para TKI ini. Bukankah semakin banyak TKI diekspor ke LN semakin banyak Pahlawan devisa di create ? artinya semakin banyak devisa masuk ke RI.

Bisa dibayangkan, jika saja seluruh engineer (insinyur) yang diproduksi Perguruan tinggi di Indonesia bisa menjadi buruh di LN bukankah ini menjadi anugerah pada RI, keuntungan nyatanya jelas pengangguran berkurang dan  keuntungan lain iklan gratis bahwa PT di Indonesia hebat. Saya kira kehidupan rekayasa di Indonesia terlalu berat tantangannya, hanya yang benar-benar tahan banting dan superior yang mampu bersaing di  Indonesia.

Ini sebutir contohnya betapa beratnya tantangan rekayasawan di Indonesia:  Di Boeing ada seorang karyawan yang asalnya: pensiunan pegawai negri (bisa diduga usianya diatas 65 tahunkan), mantan dosen ITB, dengan kepangkatan akademis profesor (guru besar), seorang doktor (S-3), mantan Dir Teknologi di sebuah BUMN, mantan asisten mentri Ristek-BPPT, saya kenal beliau karena saya pernah jadi mahasiswanya di tahun 1978, saya pernah jadi anak buahnya juga ketika saya jadi buruh di BUMN itu, beliau orang yang lurus. Bayangkan orang seperti beliau ini di Indonesia hanya duduk merenung (nyaris tak berguna dan takdidaya gunakan, seolah hanya menunggu masuk liang lahat), tetapi dengan pengalamannya di Boeing beliau diberi kepercayaan membuat sesuatu (analysis) dibidang komposit yang mungkin baru 100 tahun kedepan bisa dikenal oleh para engineer Indonesia (itupun jika Indonesia berkecimpung didunia super material ini).

Kasus lain:
Teman-teman saya, engineer, salah satunya adalah dengan pengalaman kerja di PTDI, lalu ke Airbus-UK, lalu di Boeing yang total kerjanya belasan tahun sekarang rehat kerja, begitu pulang ke RI ingin mengabdi dibidang rekayasa di Indonesia dengan profesi buruh lagi tentunya, sudah dua tahun lebih gagal, ahirnya di usia belum 50 tahun itu hanya mampu dan harus puas membuka toko kaos di Cibaduyut untuk hidup layak, betapa beratnya hidup sebagai engineer di Indonesia sekarang ini.

Kalau saya sedihnya beda dengan mas Tri haryo, saya malah begini: Engineer atawa Insinyur dimanapun pada umumnya pada posisi buruh, artinya membutuhkan lapangan kerja yang digajih, nah yang membuat sedih saya adalah kenapa para pengusaha dan penguasa di Indonesia tak mampu mengcreate lapangan kerja yang cukup, tentunya dengan upah yang layak untuk hidup layak, Faktanya pengangguran untuk level engineer ini semakin menggunung, mereka kelayapan bagaikan gelandangan tak berguna.

Jadi dalam kasus "bahwa ratusan insinyur dari PT PAL kabur diantaranya ke Malaysia" adalah sesungguhnya harus dipandang sebagai "mereka ini Pahlawan  real" dari para pemuda Indonesia, karena selain mereka jadi pahlawan devisa,  mereka juga sama saja dengan menyediakan lapangan kerja untuk para enginee  Indonesia lainnya, kan tempat yang mereka tinggalkan bisa diisi oleh engineer lainnya.

Nah mas Tri Haryo jadi bisa gembira sekarang kan. Mari kita ambil kasus lain :
Misal mas Tri Haryo memimpin pabrik dengan seribu insinyur, lalu secara berkala insinyurnya menjadi TKI di LN, taruhlah ahirnya setiap tahun seluruh  insinyur bisa di ekspor, artinya setiap tahun seribu tempat itu kosong dan digantikan oleh Insinyur (engineer) baru. Disini keduanya bisa jadi pahlawan, pertama Mantan karyawan mas Tri jelas pahlawan devisa karena jadi TKI, dan Mas tri Haryo sebagai pimpinan pabrik jelas jadi pahlawan  pembangunan karena setiap tahun mampu menyediakan seribu lapangan kerjaan untuk engineer baru.

Jadi yang terpenting sekarang yang harus difikirkan adalah meng create lapangan kerja baru untuk para pemuda-pemudi RI yang sudah menjadi pengangguran bertahun tahun ataupun yang sekarang lulus dari sekolahan, lalu membantu memfasilitasi para engineer/pemuda/pemudi Indonesia yang mampunya cuman jadi TKI karena tak mampu bersaing didalam negri........Jika ini bisa terjadi, maka kita bisa gembira semua, karena semua bisa makan dengan layak.

wass
AQ


DISKUSI DI MILIS ALUMNI YANG RELATIF SENIOR

Dear WP,

Kalau menurutku, secara umum kelebihan anak2 IPA (apalagi kalau pendidikan lanjutan juga dalam bidang eksakta) adalah logika yang kuat (strong logic) dan pengetahuan atas detail, yang didapat dari bertahun-tahun mengerjakan soal-soal matematika & science. Hal ini tentunya diperlukan dalam pekerjaan dan mungkin jarang dimiliki oleh anak2 jurusan IPS.

Sedangkan kelebihan anak2 IPS dan social science pada umumnya adalah memiliki wawasan yang luas dan lebih flexible, yang mungkin didapat dari mempelajari berbagai teori yang berbeda-beda dan tidak ada yang pasti kebenarannya (non-exact), sehingga mereka terbiasa melihat dari berbagai perspektif dan pada akhirnya memiliki gambaran utuh atau "big picture" dari suatu permasalahan. Kelebihan ini adalah yang sering saya kagumi pada teman-teman yang berlatar belakang IPS. Menurut saya, hal ini malah sangat penting dalam pekerjaan, yang terutama diperlukan dalam peran sebagai "Leader".

Jadi bisa dibayangkan alangkah hebatnya kalau seorang Insinyur, yang mempunyai logika yang kuat dan pengetahuan atas detail, digabungkan dengan wawasan yang luas dan flexibility. Maka jadilah ia seorang "Insinyur Plus" yang siap menangani detail tapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan.

Mudah-mudahan jawaban saya nggak ngaco Wit, he..he..

Salam,
Indira (Een)    


--- On Mon, 2/2/09, Wahyoe Prawoto wrote:

From: Wahyoe Prawoto
Subject: [itb77] Re: Forward Email Dirjen DIKTI (was Re: Kenapa Perusahaan di Sidoarjo, Kuroma engineering, bisa, tetapi PAL & BPPT belum bisa ?)
To: itb77@bhaktiganesha.or.id
Date: Monday, February 2, 2009, 4:44 PM


Een,
Saya pun tadi malam ditanya oleh anak bungsu saya (perempuan) yang memilih jurusan IPS dan sedang ber-siap2 menghadapi test masuk Perg. Tinggi. Karena ada sedikit kata2 saya yang dianggapnya 'menyepelekan' IPS, dia bertanya  apakah ilmu saya yang dapatkan di jurusan IPA yang sekarang saya gunakan untuk bekerja dan tidak akan saya punyai kalau dulunya saya lulusan IPS?

Wah, ternyata saya tidak bisa secara cepat menjawabnya, dan jawaban saya  yang meluncur akhirnya tetap tidak memuaskannya. Tolong bantu dong kasih jawaban siapa tahu bisa dipakai buat cucu nanti, maklum untuk ke anak sudah  terlambat. Ketiga anak saya memilih IPS meskipun angka rapotnya disarankan masuk IPA.

Salam,
wp - m03/t11/ti77


At 02:40 PM 2/2/2009, you wrote:

Dear Hengki,
Menurutku, pendidikan Insinyur perlu dilengkapi dengan pengetahuan Strategic Management sehingga dapat melihat semua permasalahan dalam "Big Picture".dan Finance sehingga dapat mengerti aspek keuangan suatu bisnis.

Oh ya, berikut ini aku forward email dari Dr. Fasli Jalal, Dirjen Pendidikan Tinggi, sebagai response atas masukan ku tentang Peran Insinyur dan Visi Pendidikan yang Menyertainya. Mungkin usulannya perlu kita tindak lanjuti.

Salam,
Indira (Een)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

E-MAIL DARI DIRJEN DIKTI FASLI JALAL

Dear Een,
Kak Fasli sangat setuju dgn analisis dan saran Een serta teman-teman Een dari milis ITB77 tentang pentingnya peran insinyur dalam membangun aset bangsa di berbagai bidang kehidupan. Yang cukup mencemaskan adalah di beberapa PTN yg baik ternyata peminat utk menjadi insinyur semakin berkurang dan juga yg melamar bukan selalu dari peringkat-peringkat terbaik di SMAnya. Artinya, input utk menjadi insinyur yg baik selain sudah berkurang, paling tidak di beberapa tempat, juga semakin menurun kualitasnya. Dan ini tentu selain mencemaskan juga akan membahayakan upaya bangsa kita utk terus menerus menambah aset bangsa di berbagai bidang kehidupan tsb.

Mungkin sudah masanya kita meneliti trend ini secara lebih mendalam sehingga dari data dan analisa tsb kita bisa membuat sebuah rekomendasi yg komprehensif mulai dari peran insinyur dlm pemupukan aset bangsa saat ini, kondisi intake calon mahasiswa di Fak Teknik, proses pembelajaran dengan segala dukungannya, imej insinyur di mata siswa dan orang tua, insentif insinyur utk berkreasi, kebijakan pemerintah utk pembangunan infrastruktur, dan peran organisasi profesi insinyur serta faktor-faktor lainnya.

Mumpung kami sedang menyiapkan proyek besar, bekerja sama dgn Pemerintah Jepang, untuk mengembangkan lagi ITB sehingga kapasitasnya semakin besar dan proses pembelajarannya semakin bermutu, relevan, dan menyenangkan maka ada baiknya alumni ITB membahas hal ini utk kita (DIKTI) dukung. Mamfaatnya pasti amat besar, apalagi diarahkan oleh orang-orang spt Een dkk yg sudah malang melintang di sektor riil.

Kak Fasli tunggu langkah Een dkk selanjutnya.
Terima kasih atas sumbangan pemikiran Een dan "keep up the good works".

Fasli Jalal (Singapore, dlm perjalanan menuju Paris dan Jenewa)
________________________________

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=156