Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Kenalkah anda dengan Gaura Mancacaritadipura ?
Senin, 17 Mei 10 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Gaura aktivis Batik“Saya dulu seorang warga Australia. Sewaktu saya masih SMA, 32 tahun yang lalu, saya pertama kali berlibur ke Bali”, Kata KRT Gaura Mancacacaritadipura. Seorang warga negara Australia, yang saat ini sudah menjadi Warga Negara Indonesia. “Tidak lama kemudian, saya jatuh cinta pada Bangsa dan Budaya Indonesia”. Itulah awal pembicaraan saya dengan Gaura (panggilannya), di stasiun Kereta Api Pekalongan (lihat foto Gaura bersama keluarga kami) Sabtu 15 Mei 2010 sore hari. Kami berada di Pekalongan untuk menghadiri acara pengukuhan Museum Batik Pekalongan, sebagai warisan budaya dunia (World Cultural Heritage), khususnya untuk pendidikan dalam pembuatan Batik.

Siapakah Gaura Mancacacaritadipura ?. Rupa-rupanya, dialah salah seorang aktivis budaya, yang menuliskan dengan rinci dan menyusun konsep permohonan negara Indonesia, untuk menjadikan Batik sebagai Intangible Cultural Heritage kepada UNESCO. “Formulirnya tidak terlalu tebal, hanya 17 halaman.  Lalu kami lengkapi dengan beberapa foto, video, serta berbagai dukungan dari banyak komunitas. Permohonan tersebut sebenarnya baru kami kirimkan pada tanggal 3 September 2008”, kata Gaura. “Salah satu hal yang menarik, saat sidang penentuan di Abu Dhabi pada tanggal 2 Oktober 2009, sebenarnya yang diajukan kepada dewan penilai ada 111 usulan dari berbagai negara. Kita bersyukur karena Batik dinaikan prioritasnya menjadi no:1 untuk dipertimbangkan, karena kelengkapan dokumen permohonan kita”. Gaura kemudian melanjutkan, “Banyak pihak yang terlibat untuk keberhasilan ini, antara lain Menko Kesra (saat itu) Aburizal Bakrie, dan Team Nominasi yang dipimpin oleh Pak Sutjipto Umar dari Kadin. Beliau ditunjuk oleh Pak Aburizal Bakrie untuk menggalang berbagai asosiasi dan juga Forum Masyarakat Batik ”. Gaura menambahkan.

“Tetapi yang menuliskan semua informasi tersebut, kedalam formulir permohonan UNESCO, pasti pak Gaura, ya ?”, tebak saya. “Iya memang”, Gaura mengangguk. ”Karena kuncinya adalah menuliskan apa yang diminta oleh UNESCO, bukan mengirimkan dokumen tebal-tebal”, kata Gaura tersenyum dengan senyumannya yang khas.

“Setelah Batik dikukuhkan oleh UNESCO sebagai World Intangible Cultural Heritage, yang diputuskan pada tanggal 2 Oktober 2009, apresiasi dan kebanggaan masyarakat Indonesia terhadap Batik tiba-tiba melonjak”, kata Gaura. Proses pengukuhan dan liputan beritanya tentang ini di berbagai Media cetak sudah cukup banyak. ”Namun banyak yang tidak tahu, bahwa Museum Batik Pekalongan, yang sebentar lagi akan menjadi Museum Batik Nasional, juga ternyata mendapat apresiasi yang sangat luar biasa dari UNESCO, khususnya untuk pendidikan membuat Batik”, kata Gaura menjelaskan.

Penyerahan Sertifikat UnescoKarena keputusan pada tanggal 2 Oktober 2009 tersebut, sebenarnya juga menyetujui 3 (tiga) pendidikan budaya dunia, yaitu pendidkan budaya pada Museum Pusol di Spanyol, pendidikan komunitas Aymara untuk Chile, Bolivia dan Peru, serta pendidikan membuat Batik di Pekalongan”. Tampak pada foto SesMenko Kesra menyerahkan sertifkat UNESCO kepada pengelola Museum Batik Pekalongan dan Walikota Pekalongan.. “Sayang kalau masyarakat Indonesia tidak tahu tentang Museum Batik Pekalongan” kata Gaura.

Sewaktu saya tanya, ”Kira-kira berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pengukuhan Batik dan juga pengukuhan pendidikan Museum Batik Pekalongan, sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO ?”. Gaura menjawab, ”Kalau dari sisi biaya tidak mahal, mungkin sekitar Rp 200 s/d 300 juta saja. Tapi yang terpenting adalah menuliskan dengan baik permohonan kita”.

One man, one action, and the proud of one nation.

Salam

Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=245