Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Panas Bumi
Kemampuan 3G - alasan kenapa industri panas bumi Indonesia tidak bisa melejit
Senin, 25 Juli 11 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Selama hampir setahun ini saya terus mencari jawaban, kenapa Industri Pembangkitan Listrik dengan menggunakan Energi Panas Bumi, tidak bisa “melejit”.  Padahal hampir semua orang tahu bahwa cadangan energi panas bumi di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Angka cadangannya memang ber-variasi tapi kira-kira bisa menghasilkan listrik sebesar 26.000 MW.

Sewaktu bertugas di PT Rekayasa Industri, saya sudah memperoleh jawaban bahwa ternyata membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tidaklah mahal, seperti yang selama ini diberitakan. Lalu kenapa pembangunan PLTP tidak ”mewabah” dan kemudian terjadi dimana-mana ?.

Setelah berkeliling-keliling di sumur-sumur panas bumi Pertamina, jawaban tersebut mulai sedikit demi sedikit terkuak. Rupa-rupanya kuncinya adalah pada pencarian dan pengeboran sumur panas buminya, bukan pada pembangunan PLTP-nya. Setelah berdiskusi dengan para insinyur dan para tenaga ahli Pertamina (lihat foto sewaktu mengunjungi alat pengeboran panas bumi di Ulubelu, Lampung), saya memperoleh informasi bahwa bila ada 1 (satu) atau 2(dua) sumur pengeboran yang gagal menemukan sumber panas bumi, maka ke-ekonomian proyek yang hanya menjual listrik dengan harga sekitar 7 sen sampai 9,7 sen per kwh, akan langsung tidak ekonomis. Lho kenapa bisa begitu ?.

Rupanya resiko dan biaya eksplorasi serta pengeboran sumur panas bumi, tidaklah jauh berbeda dari resiko dan biaya untuk pengeboran sumur minyak dan gas. Sebagai ilustrasi, untuk membebaskan lahan, membuka jalan, melakukan eksplorasi dan kemudian pengeboran, biayanya sudah relatif mahal yaitu bisa mencapai kisaran US $ 6 juta s/d US $ 10 juta per sumur. Kalau pengeboran tersebut gagal menghasilkan uap untuk membangkitkan listrik, maka hilanglah uang sebesar nilai tersebut. Padahal uang tersebut harus memakai dana dari kocek perusahaan (ekuitas), bukan dari dana pinjaman. Karena sampai hari ini, tidak ada satupun industri perbankan yang mau mengambil resiko mendanai usaha pengeboran. Dana-dana bantuan asing (bila ada), umumnya terbatas hanya untuk biaya-biaya eksplorasi dan bukan untuk biaya pengeboran. Sehingga sangatlah sulit bagi sebuah perusahaan kecil ataupun menengah Indonesia untuk melakukan usaha ekplorasi dan pengeboran panas bumi, karena hampir pasti dana mereka akan sangat terbatas.

Dengan pertimbangan itulah, selama beberapa bulan terakhir ini, saya mengambil inisiatif untuk mengumpulkan para ahli-ahli Indonesia dari PT Chevron Indonesia yang dipimpin oleh rekan Doddy Astra, dan juga para ahli-ahli dari PT Supreme Energy Indonesia, yang dipimpin oleh rekan Asrizal (beliau juga pernah di Star Energy – foto dikiri), untuk berdiskusi dengan para ahli panas bumi di Pertamina. Tujuan saya adalah mencari cara agar penemuan sumur panas bumi, bisa dilakukan dengan semurah mungkin dan tentunya secepat mungkin.

Setelah berdiskusi ber-kali-kali dengan banyak ahli, maka hampir-hampir dipastikan bahwa penemuan sumur-sumur panas bumi di Indonesia bisa dapat lebih dipercepat dan juga lebih akurat bila Indonesia mempunyai 3(tiga) keahlian berikut di bidang panas bumi, yaitu ahli Geologi, ahli Geofisika dan ahli Geokimia panas bumi. Saya menyebutnya dengan ”Kemampuan 3G panas bumi”. Sebagai contoh salah satu yang terasa sangat langka adalah ahli Geokimia, khususnya untuk mendeteksi Fumarol, Sulfat dan Khlorida dari sumber panas bumi di dalam perut bumi. Bila Indonesia ingin mempercepat pengembangan industri energi panas bumi, maka ”Kemampuan 3G” panas bumi harus ditingkatkan dengan secepat-cepatnya. Ketiga jenis keahlian tersebut, harus menyatu-padukan keahlian dan juga seluruh informasi serta data untuk membuat model cadangan (reservoir model) menggunakan berbagai perangkat lunak yang sangat mutakhir. Tulisan tentang ini pernah saya tulis sebelumnya.

Dengan bantuan model komputer itulah, kita melakukan analisa lokasi sumber energi panas bumi di dalam perut bumi, dan juga memprediksi arah aliran uap-panasnya. Berdasarkan interpreatasi itulah, kita menentukan lokasi titik pengeboran dan juga kedalaman sumur yang harus di-bor. Kesalahan dalam membuat model ini, karena misalnya salah pengambilan data, salah interpretasi, salah menyusun model dll, akan mengakibatkan kesalahan pengeboran, yang tentunya akan sangat mahal. Jadi ujung-ujungnya tidak lain adalah kemampuan penguasaan teknologi.

Demikian sharing saya.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=318