Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Politik
Mempelajari kembali terjadinya kabinet 100 menteri, 45 tahun yang silam
Minggu, 23 Oktober 11 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Saya mencoba membaca kembali sejarah tentang kenapa Kabinet Dwikora-II yang dilantik oleh Presiden Soekarno pada 24 Februari 1966 (foto di kanan), dengan jumlah menteri 132 orang, sering di-olok-olok dengan julukan  “Kabinet 100 Menteri”. Padahal Kabinet Dwikora-I sebelumnya, yang dilantik pada tanggal 27 Agustus 1964, jumlah menterinya juga sebenarnya sudah diatas 100 orang, atau tepatnya 110 orang.

Kejadian-kejadian di Indonesia setelah peristiwa 30 September 1965, sampai dengan keluarnya Supersemar pada 11 Maret 1966, saat ini sudah bisa dibaca dengan mudah dari tulisan banyak tokoh-tokoh sejarah dan juga ratusan kabelgram dari kedutaan Amerika Serikat di Indonesia ke Washington DC. Sehingga rangkaian peristiwa dan juga latar belakang terjadinya olok-olok “Kabinet 100 menteri” bisa lebih dimengerti secara kontekstual sejarah. Berikut ini rangkuman saya.

Setelah peristiwa 30 September 1965, TNI khususnya Angkatan Darat (AD), secara agresif mengejar dan membunuh para simpatisan PKI. Sampai-sampai para pengusaha non-pribumi, banyak yang ikut menjadi korban. Terbunuhnya para pengusaha non-pribumi, yang merupakan pelaku pasar di sektor riel ini, semakin melambungkan harga-harga dan memperburuk perekonomian Indonesia. Sampai-sampai, Presiden Soekarno pada tanggal 27 Oktober 1965 sempat berpidato ”kalau ingin membunuh tikus, janganlah membakar rumahnya”. Namun dengan kombinasi propaganda yang tepat dan juga langkah yang cepat, TNI semakin hari semakin kuat kekuasaan politiknya dan semakin mendapat dukungan rakyat. Dari kabelgram Marshal Green (foto dikiri dengan Jendral Soeharto), duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, pada tanggal 2 Februari 1966, dilaporkan bahwa sejak Desember 1965 sampai dengan akhir Januari 1966, telah terjadi peperangan tingkat tinggi antara Soekarno dengan para Jendral TNI Angkatan Darat (AD), yang dipimpin oleh Nasution. Tarik menarik kekuasaan ini berlangsung dalam kondisi perekonomian Indonesia, yang semakin memburuk.

Dilaporkan oleh Green bahwa pada bulan Desember 1965, kubu militer memenangkan sebuah langkah penting, yaitu KOTI yang dipimpin oleh para pimpinan militer berhasil mengucilkan peran Wakil Perdana Menteri Soebandrio. Caranya adalah dengan melebur Biro Pusat Intelijen (BPI), salah satu kekuatan Soebandrio, dibawah komando KOTI. Namun sampai akhir Januari 1966, Presiden Soekarno tetap tidak ingin membubarkan PKI. Bahkan setelah Soekarno mengamati bahwa pihak militer nampaknya tidak akan berani melawan dirinya, mulailah tersebar berita di media tentang akan adanya reshuffle kabinet untuk memperkecil kekuasaan Nasution. Namun pihak militer terus melakukan perlawanan di belakang layar, dengan cara menggerak-kan mahasiswa dan pelajar untuk memprotes kenaikan harga-harga. Salah satu demonstrasi yang cukup besar adalah demonstrasi di depan Istana Bogor pada 15 Januari 1966. Pada demonstrasi ini, ribuan mahasiswa dan pelajar yang ber-unjuk rasa di depan Istana Bogor, dimana Presiden Soekarno sedang tinggal, hanya mau membubarkan diri setelah Jendral Soeharto datang dan meminta mahasiswa untuk bubar.

Akhirnya pada tanggal 23 Februari 1966, Presiden Soekarno mengumumkan susunan menteri yang duduk di Kabinet Dwikora-II (yang disempurnakan). Dalam kabinet tersebut, Nasution digeser dan tidak lagi menjabat menjadi Menteri Pertahanan. Namun kabinet ini banyak sekali mengakomodir tokoh-tokoh muda militer menjadi menteri. Berikut ini nama-nama Menteri dari jajaran militer seperti Letjen Soeharto, Jendral Pol Soekarno Djojonegoro, Komjen Pol Sumarto, Laksda Sri Mulyono Herlambang, Mayjen Ali Sadikin, Letjen Hidayat, Mayjen Sarbini, Mayjen Suprayogi, Brigjen Hartawan, Mayjen Azis Saleh, Brigjen Azhari, Brigjen Jusuf, Brigjen Ahmad Jusuf, Laksda Hamzah Atmohandojo, Mayjen TNI Satrio, Mayjen Achmadi, Mayjen Waluyo Puspoyudo dan banyak lagi.

Walaupun sudah mengakomodir para jendral-jendral TNI muda, namun pada tanggal 24 Februari, saat pelantikan Menteri Kabinet Dwikora-II, terjadilah demonstrasi mahasiswa hebat yang mengakibatkan terbunuhnya tokoh mahasiswa Arief Rahman Hakim. Menurut Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa, pada pukul 09.30 pagi telah terjadi insiden antara patroli garnizun dengan mahasiswa di sekitar Istana. Bentrokan ini mengakibatkan terjadinya letusan senjata. Sekitar jam 11:00, Maulwi melihat para demonstran menggunakan truk-truk tentara sudah berkeliling istana membawa jaket kuning mahasiswa UI yang terlihat ada noda-noda merah seperti darah. Mereka meneriakkan yell-yell berulang-ulang bahwa ”Tjakrabirawa pembunuh... Tjakrabirawa pembunuh”. Dalam bukunya, Maulwi berusaha mencari visum dokter untuk kematian Arief Rahman. Namun sampai akhir hayatnya, Maulwi tidak berhasil menemukan visum ataupun otopsi yang mengulas peluru penyebab kematian Arief Rahman Hakim.

Dengan semakin memuncaknya demonstrasi-demonstrasi mahasiswa dan pelajar, kota Jakarta praktis semakin lumpuh. Tuntutan para demonstran adalah ”Retool kabinet, turunkan harga, dan bubarkan PKI”. Retool kabinet, sering diteriak-kan oleh para demonstran dengan kata-kata ”Bubarkan kabinet 100 menteri”. Sehingga untuk mengadakan rapat pertama Kabinet Dwikora-II di Istana Merdeka, pada tanggal 10 Maret 1966, diperlukan persiapan dan pengamanan yang sangat luar biasa. Presiden dan banyak menteri, terpaksa harus menginap di Istana ataupun di dekat Istana sehari sebelumnya, untuk menghadiri rapat pada tanggal tersebut. Dengan pengawalan yang ketat, hampir semua menteri bisa menghadiri rapat perdana Kabinet Dwikora-II di Istana Merdeka. Hanya pak Harto dan pak Frans Seda yang tidak hadir karena alasan sakit.

Pada rapat itu terjadilah insiden dimana pimpinan pasukan Tjakrabirawa, Brigjen Sabur mengirimkan nota kepada Bung Karno. Isi notanya menyampaikan bahwa di luar istana sedang terjadi pengepungan pasukan misterius, yang tidak menggunakan tanda pengenal. Hari ini kita mengetahui bahwa pasukan tersebut adalah RPKAD (Kopasus) yang dipimpin oleh Sarwo Edhie, dibawah Komando Jendral Kemal Idris dan atas sepengetahuan Soeharto. Tujuan mereka adalah untuk menangkap Soebandrio, karena ia disinyalir terlibat dalam pembunuhan para Jenderal-Jenderal. Akibat dari adanya nota tersebut, Bung Karno langsung menghentikan rapat dan terbirit-birit terbang menggunakan helikopter menuju Bogor didampingi Soebandrio. Saking terburu-burunya, Soebandrio bergegas berlari mengikuti Bung Karno, sampai-sampai ia lupa memakai sepatunya.

Kejadian berikutnya hampir semua dari kita mengetahuinya, yaitu keluarlah Surat Perintah Sebelas Maret.

Demikian sharing saya setelah membaca beberapa buku via Google Books malam ini.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=333