Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Korporasi
Berita 2011 yang bisa berdampak - menghadapi kejahatan akutansi
Senin, 09 Januari 12 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Berita awalnya, organisasi mafia Jepang -Yakuza nampaknya terlibat dalam skandal US $ 1,7 Milyar, pada perusahaan kamera dan peralatan medis terkenal Olympus Corporation. Skandal yang mulai terkuak pada akhir tahun 2011 ini, merupakan yang terbesar dalam sejarah korporasi Jepang. Karena selama berpuluh-puluh tahun, nampaknya para pimpinan Olympus Corp rupa-rupanya berhasil “melenyapkan” uang dengan jumlah yang sangat luar biasa besar, penghilangan jejak tersebut dilakukan melalui upaya pelaporan palsu buku keuangan perusahaan. Pertanyaan banyak pihak, bagaimana caranya ?. Karena Olympus adalah sebuah perusahaan terbuka yang sangat mendunia, yang segala sesuatunya dilakukan dan dilaporkan secara transparan. Untuk mencari jawaban ini, pada tanggal 21 Desember 2011, bergerak-lah ratusan investigator dan para penyidik ke kantor-kantor Olympus Corp dan juga ke rumah-rumah para eksekutif perusahaan tersebut (lihat foto di kiri).

Di belahan dunia lain, pada hari Minggu tanggal 30 Oktober 2011, MF Global, sebuah perusahaan finansial yang juga sangat mendunia, tiba-tiba menyatakan kepada otoritas pasar modal di Amerika Serikat bahwa ia akan kekurangan likuiditas sebesar US $ 891.4 juta, atau dalam kata lain “bangkrut”. Berita ini membuat panik banyak investor di seluruh dunia, misalnya di Singapore dan juga Hongkong. Kantor-kantor MF Global langsung diserbu oleh para investor, untuk menuntut kembali dana mereka (lihat foto di kantor Singapore - kanan). Ambruknya MF Global adalah kebangkrutan terbesar setelah skandal runtuh-nya perusahaan Lehman-Brothers pada September 2008. Pertanyaan para investors dan juga hampir semua lembaga otoritas moneter di seluruh dunia, “kenapa kejahatan akutansi dalam skala raksasa masih saja terus terjadi ?”. Padahal sejak akhir tahun 2008, setelah kasus “Sub-Prime Mortage” meledak, yang melumpuhkan perekonomian Amerika Serikat, telah banyak perubahan regulasi untuk meningkatkan transparansi akutansi dan juga pelaporan keuangan perusahaan.

Apakah tidak ada cara yang bisa dilakukan oleh sebuah Negara untuk mengurangi dan mencegah kejahatan akutansi ?. Karena nampaknya selain korupsi, kejahatan akutansi akhir-akhir ini nampaknya justru semakin banyak meruntuhkan perekonomian banyak negara maju.

Tentunya, salah satu cara yang bisa dilakukan oleh otoritas moneter sebuah Negara adalah dengan memperketat sistem akutansi di negeri tersebut. Dengan mengamati perkembangan dan niat para penjahat akutansi yang semakin hari semakin canggih, maka pada awal Desember 2011, otoritas Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) semakin terus me-maksa-kan penerapan International Financial Reporting Standard (IFRS) di Indonesia. Caranya adalah dengan menerapkan sebagian besar standar-standar IFRS, kedalam sistem akutansi Indonesia. Sebagai contoh pada 1 Januari 2012, akan dipaksakan 16 aturan baru Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang akan sesuai dengan aturan IFRS. Sedangkan pada tahun 2013, akan ditambahkan lagi 18 PSAK baru, sehingga semakin terjadi konvergensi (keseragaman) antara standard akutansi Indonesia (PSAK) dengan standard akutansi dunia (IFRS). Apa maksudnya semua ini ?. Perusahaan-perusahaan di Indonesia akan semakin sulit untuk menutup-nutupi kerugian-kerugian  yang terselubung.

Demikian liputan kami.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=341