Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Makro
Press release dari Bank Indonesia yang merisaukan saya
Minggu, 12 Agustus 12 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Jumat 10 Agustus 2012 kemarin Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, Dody Budy Waluyo, mengeluarkan sebuah siaran pers yang agak membuat risau saya. Disampaikan bahwa cadangan devisa Indonesia, pada akhir triwulan II-2012, tercatat sebesar US$106,5 miliar, atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Setelah membaca berita tersebut, saya langsung membandingkan dengan angka devisa tahun lalu pada bulan yang hampir sama, dan juga membandingkan kekuatan devisa Indonesia untuk mengimpor dan membayar hutang. Ternyata datanya membuat saya semakin risau. Ternyata dalam 1(satu) tahun terakhir ini, devisa kita menurun hampir 25% dan juga kekuatan devisa kita sudah dibawah kriteria “minimal kuat untuk mengimpor selama 6 bulan”. Berikut ini tabel perbandingannya :

Bulan

Tahun

Devisa

Bulan Impor

Agustus

2011

124,6

7,1

Agustus

2012

106,5

5,

Lalu dalam statement Jumat kemarin, Dody Budy Waluyo menyampaikan bahwa penurunan devisa ini "Penyebab utamanya adalah surplus neraca perdagangan yang menyusut sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar,". Membaca berita ini, saya juga kemudian langsung men-download data-data Ekspor-Impor dari Biro Pusat Statistik, untuk kemudian dibuat trend-nya selama 4(empat) bulan terakhir ini. Ternyata trend-nya juga cukup mengkhawatirkan sebagaimana pada tabel berikut  :

No

Bulan

Ekspor

Impor

Ekspor-Impor

 

 

US $ Mily

US $ Mily

US $ Mily

1

Maret

17,27

16,43

0,84

2

April

15,98

16,62

-0,64

3

Mei

16,72

17,21

-0,49

4

Juni

15,36

16,69

-1,33

Tampak jelas bahwa trend angka ekspor kita menurun, sedangkan angka impor kita meningkat. Sehingga dari bulan ke bulan, Indonesia semakin defisit. Dari data-data tersebut, diketahui bahwa penyebab utamanya adalah ekspor batu bara yang semakin menurun karena China dan India mengurangi impor mereka. Disisi Impor, harga komoditi pangan dunia yang meningkat karena cuaca panas, khususnya di Amerika Serikat. Mau tidak mau, dampak resesi di Eropa dan kondisi ekonomi yang relatif stagnan di Amerika, telah membuat perekonomian negara-negara seperti India dan China melambat. Kondisi ini akhirnya berdampak pada Indonesia. Disisi lain, rusaknya tanaman pangan karena cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, telah membuat harga komoditas pangan melonjak.

Sebagai mantan veteran perang ”Krisis Moneter 1997” dan ”Krisis 2008”, saya melihat tanda-tanda diatas dengan kekhawatiran yang sangat serius. Karena sebenarnya semua krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia, terlihat tanda-tandanya beberapa bulan sebelum kejadian. Jika tanda-tanda tersebut diamati dan dianalisa, para pimpinan perusahaan dan juga tentunya pimpinan pemerintahan, sebenarnya mempunyai waktu yang cukup untuk bereaksi. Hari-hari ini, tanda-tanda tersebut sudah mulai terlihat di Indonesia.

Demikian analisa sederhana saya

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=361