Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Ganesa Wirya Jasa Utama
Rabu, 16 Juli 14 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Pertama-tama izinkanlah saya mengucapkan terima kasih kepada ITB, yang telah memberikan penghargaaan Ganesa Wirya Jasa Utama, sebagaimana Surat Keputusan Rektor ITB, tertanggal 3 Juli 2014. Tentu saya dan keluarga merasa sangat bersyukur dengan penghargaan ini. Minggu lalu saya menerima undangan untuk menghadiri acara penganugerahan di Aula Barat, Kampus ITB, dalam rangka peringatan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, yang ke-94.

Tentu saya bertanya-tanya, penghargaan ini diberikan untuk apa. Lalu saya coba baca di internet dan kemudian mengetahui bahwa ITB rupanya secara periodik telah menganugerahkan berbagai penghargaaan, sejak beberapa tahun silam. Jadi setiap tahunnya, ITB memberikan 2(dua) kali penghargaan. Untuk kalangan intern ITB, dilakukan penganugerahan pada saat Dies Natalis ITB, yaitu setiap tanggal 2 Maret. Lalu penghargaan kepada pihak luar, dilakukan pada saat peringatan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia, yaitu pada tanggal 3 Juli setiap tahunnya.

Penghargaan untuk pihak luar tersebut juga, rupanya berbagai macam. Penghargaan yang saya terima adalah karena jasa serta kontribusi kepada ITB. Dari pembicaraan dengan Pimpinan Prodi Teknik Kimia (Prodi TK) dan para dosen TK tadi pagi, saya mendapat informasi bahwa setiap jurusan mengusulkan seorang calon setiap tahunnya. Lalu kemudian diseleksi oleh banyak pihak secara bertahap. Setelah diseleksi, dipilihlah sebanyak 18 orang. Rincian kriteria dan bagaimana evaluasinya, saya kurang memahami. Tetapi yang jelas, pengusulan saya dilakukan oleh Prodi TK.

Tentu dalam kesempatan tadi pagi, saya mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan di Prodi TK, dengan selalu tidak lupa memberi pekerjaan rumah kepada para dosen dan ahli di Prodi TK. Contohnya, tadi pagi saat acara mau dimulai, saya masih diskusi tentang upaya untuk pengembangan katalis di Pertamina, bagaimana mengupayakan industri kimia berbasis bahan baku rumput laut, dan juga meminta-minta tolong kepada rekan-rekan Prodi TK untuk ikut menyelamatkan industri Coal Bed Methane (CBM) di Indonesia. Saking serunya saya diskusi, sampai-sampai protokol mengingatkan untuk saya kembali ke kursi, karena acara mau dimulai.

Terus terang acara tadi pagi, serasa seperti acara pelantikan sarjana bagi saya. Buat saya acara ini agak unik karena selama puluhan tahun, saya tidak sempat di-wisuda oleh ITB. Karena pada saat hari Wisuda Sarjana, saya kebetulan harus mengikuti ujian TOEFL di salah satu ruang kuliah di kampus ITB (dulu bernama Gedung TVST), yaitu tepat diseberang Gedung Serba Guna, tempat acara Wisuda Sarjana. Saya perlu mengikuti ujian TOEFL,  untuk melanjutkan kuliah di USA. Selain itu ayah dan ibu saya juga tidak bisa hadir karena sedang ada Rapat Pimpinan ABRI, yang mewajibkan mereka harus konsinyiring di salah satu kompleks militer. Jadi saat prosesi acara wisuda Sarjana pada bulan Oktober 1981, saya justru sedang berada diseberang jalan, sibuk mengerjakan ujian TOEFL. Nah, selesai ujian TOEFL, saya langsung ganti baju jas dan memakai toga untuk bergabung dalam acara pelepasan sarjana baru, yang diselenggarakan di jurusan (Prodi). Sehingga acara tadi pagi, cukup mengobati kangen saya untuk diwisuda oleh rektor ITB.

Pagi tadi juga merupakan sebuah kesempatan bagi saya untuk berkumpul dengan keluarga. Kebetulan orasi pak Azwar Abubakar – Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, sebagai penerima penghargaan utama, menutup orasinya dengan kata-kata yang sangat indah yaitu, “kita bersama-sama perlu untuk menyelematkan PT Dirgantara Indonesia”. Kata-kata tersebut agak mengena bagi kami sekeluarga, karena kebetulan anak saya yang pertama, Purwa, pada 4 Agustus 2014 mendatang, akan memulai kerja praktek di PT Dirgantara Indonesia (PT DI), sebagai mahasiswa Teknik Penerbangan untuk bidang Aerodinamika.  

Setelah acara, saya bilang ke Purwa, “Umur ayah sudah hampir 60 tahun. Tapi ayah tidak akan berhenti berupaya sampai akhir hayat, membangun negeri ini. Namun sekarang sudah saatnya-lah generasi Purwa yang mengambil alih. Dengarkan tadi kata-kata pak Azwar, kita harus selamatkan PT DI”. Lalu mulailah saya mengulang cerita saya, saat saya masih mahasiswa dan seumur dengan Purwa hari ini, yang mendengar ceramah Ir Hartarto di tahun 1980, dengan kata-kata beliau, “Pada suatu saat nanti, semua pabrik-pabrik industri di Indonesia akan dibangun oleh putra-putri Indonesia”. Ternyata sekam api semangat yang tertanam dengan kata-kata indah tersebut, terus berkobar dan membara sepanjang masa. 

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=382