Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Pendidikan
Kenangan memberikan pelatihan bagi para Insinyur Palestina
Minggu, 03 Agustus 14 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Peperangan di Gaza mengingatkan saya pada pelatihan yang kami berikan 5(lima) tahun lalu kepada para Insinyur Palestina di Jakarta.

Indonesia adalah sebuah negara Islam yang sangat maju dan indah sekali. Andaikan saya punya cukup uang, ingin sekali saya mengajak orang tua saya mengunjungi negeri ini”, Demikianlah kata-kata Rasmallah, juru bicara para insinyur Palestina pada bulan Juni 2009 (photo disamping). Ucapan mereka terkesan begitu tulus, saat acara penutupan pelatihan perancangan pabrik oleh PT Rekayasa Industri kepada belasan insinyur Palestina atas prakarsa Departemen Perindustrian.  Inilah wujud nyata pemerintah Indonesia untuk berbagi (sharing) ilmu pengetahuan, yaitu dengan memberikan tiket pesawat gratis, penginapan dan juga pelatihan merancang pabrik bagi para insinyur muda Palestina.

Sewaktu team PT Rekayasa Industri (Rekind) mendapat tugas tersebut, saya langsung mengumpulkan para insinyur Rekind untuk menyiapkan materi pelatihan dan para pengajarnya,  dalam program yang direncnakan memakan waktu sekitar 1(satu) bulan. Arahan saya adalah bahwa kita tidak boleh memandang rendah dan “under-estimate” kemampuan para insinyur Palestina. Dari pengamatan dan pengalaman saya sewaktu kuliah di USA, mereka sangat pandai-pandai. Itulah sebabnya kami memilih salah satu topik yang tersulit dalam merancang pabrik yaitu merancang sistem perpipaan. Menurut perkiraan kami, merancang fondasi beton, struktur baja ataupun sistem pelistrikan, kemungkinan besar sudah diketahui oleh mereka.

Dugaan kami ternyata tidak terlalu meleset. Para insinyur Palestina sangat cepat menyerap ilmu yang kami ajarkan. Bahkan mereka dengan sigap meminta pelajaran untuk segera dimajukan dan dipercepat setiap harinya, karena rupanya mereka sudah mempejalarinya di hotel pada malam sebelumnya. Sehingga terpaksa kami terus menambah dengan materi-materi baru, seperti perancangan sistem instrumentasi dll. Pada akhirnya, kami yang justru sangat respek kepada mereka, khususnya setelah saya berdialog dengan mereka, saat mengajarkan ilmu manajemen proyek.

Dari dialog dengan para Insinyur tersebut, barulah saya menyadari bahwa Palestina adalah sebuah negara yang tidak mengimpor satupun obat-obatan. Semua ragam obat untuk rakyat Palestina, dibuat seluruhnya di dalam negeri. Seluruh lisensi obat-obatan dimiliki dan dibuat oleh para peneliti Palestina dan diproduksi di dalam negeri. Karena impor obat-obatan seluruhnya di-embargo oleh Israel. Tahukah berapa lisensi obat-obatan yang dimiliki oleh Indonesia ?. Rasanya bisa dihitung dengan jari.

Sewaktu saya tanya, kenapa jumlah insinyurnya hanya 14 orang dan bukan 20 orang, Rasmallah menjawab singkat, “yang 6(enam) orang, tidak diperkenankan meninggalkan Gaza oleh Pemerintah Israel”. Jawaban lugas yang agak meng-henyak-kan saya.

Demikian sharing saya.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=383