Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Karya-karya 2(dua) Insinyur Indonesia - Ketika lokasi berpacaran menjadi sebuah obsesi
Jumat, 26 September 14 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Andriano dan Vanda

Sejak lulus dari ITB, Andriano (Alumni Teknik Kimia ITB angkatan 1977) langsung berkarier di Aceh sebagai karyawan pabrik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Pada tahun 1983, di kota Lhokseumawe-lah ia bertemu dengan seorang gadis, yang bernama Vanda. Mereka kemudian menikah dan dikaruniai 3(tiga) anak. Pada photo, Vanda duduk di depan paling kiri, saat ibu-ibu TK77 berlibur ke Sangkanhurip, naik kereta api bareng. Namun ternyata kota Lhok Seumawe, akhirnya menjadi kota Andriano berkarier sepanjang hampir 30 tahun lebih. Terakhir Andriano mendapat amanah sebagai Direktur Utama PT Kertas Kraft Aceh (KKA), yang mendapat tugas berat, untuk menghidupkan kembali pabrik tersebut, setelah mati hampir 10 tahun lebih. Andriano sangat ber-obsesi untuk menghidupkan kembali pabrik kertas PT KKA, untuk bisa lebih menggerakkan kota tempat ia berpacaran dengan Vanda, yaitu Lhokseumawe.

Berikut ini liputan berita minggu ini di media :

Dirut KKA, Andriano mengaku mendapatkan tantangan dari Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk menghidupkan kembali perseroan tersebut. Bahkan ia belum percaya bahwa BUMN penghasil kertas kantong semen ini akhirnya bisa hidup kembali. "Alhamdulillah KKA hidup lagi, yang dulu saya sendiri tidak percaya saat ditantang Pak Menteri". Menteri BUMN Dahlan Iskan saat berkunjung Selasa 26 Agustus 2014 lalu, menyampaikan, “Dulu saya ke sini tidak ada bunyi mesin, sunyi senyap, sekarang sudah bising dengan suara mesin. Dulu kata orang mustahil, sekarang ternyata bisa, kalau kita mau," seru pria berusia 63 tahun itu”. Baca beritanya disini . Bravo Andriano !!

Nanang dan Niar

Pada tahun 1982, Nanang (Alumni Teknik Kimia ITB angkatan 77) mulai bekerja di PT Arun NGL, sebuah perusahaan yang mencairkan gas alam untuk diekspor ke luar negeri. Di kota Lhokseumawe-lah, ia bertemu dengan seorang karyawati PT Arun yang bernama Niar. Mereka kemudian berpacaran dan akhirnya menikah. Nanang dan Niar kemudian dikarunai 3(tiga) orang anak. Niar tampak di photo atas, duduk dibawah paling kanan. Karier Nanang walaupun sempat bertugas di Jakarta dan Bontang, namun sulit ia untuk melupakan kota tempat ia berpacaran, yaitu Lhokseumawe. Salah satu obsesi yang ia fikirkan adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup kota Lhokseumawe, sementara gas alam di Aceh semakin habis dan kilang LNG Arun bakalan akan mati.

Sebagai Deputy Director Bisnis Gas PT Pertamina (Persero), sebelum Nanang menjadi Dirut PT LNG Badak, ia menelurkan sebuah idea dan juga berupaya keras untuk mengkonversi kilang Arun dari pabrik pengeksport gas alam, menjadi sebuah pabrik, yang justru bisa menerima gas alam dari luar Aceh. Gas alam tersebut direncanakan untuk dikirimkan melalui pipa dari Lhokseumawe ke Medan. Berkat kerja keras Nanang, tahun depan yaitu pada awal tahun 2015 nanti, kilang LNG Arun direncanakan akan mampu untuk menerima gas alam dan kemudian mengirimkannya melalui pipa ke Medan. Berikut beritanya. Dengan kiat dan terobosoan ini, selain kota Lhokseumawe bakalan semakin hidup, juga berbagai industri dari Aceh ke Sumut akan menggeliat, dengan adanya pasokan gas alam yang berkesinambungan. Bravo Nanang !!

Epilog

Vanda dan Niar adalah sahabat karib sejak mereka masih remaja di kota Lhokseumawe. Andriano dan Nanang adalah sahabat karib sejak mereka kuliah di kampus ITB. Mereka berempat terus bersahabat karib sampai hari ini. Ternyata kekuatan cinta bisa menghasilkan karya-karya yang mendatangkan kemaslahatan bagi warga Lhokseumawe di Aceh.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=385