Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Makro
Jawaban Daniel - pesan untuk Presiden RI yang baru (Bagian terakhir)
Jumat, 26 September 14 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Mulailah Daniel menjawab,  "Hengki, di sekitar Indonesia, ada negara-negara Jepang, Korea, Singapore, Hongkong dan Taiwan yang berhasil melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi dalam waktu kurang dari 10 tahun. Sedangkan Brunei, dan Malaysia masih belum juga bisa melompat, walaupun sudah belasan tahun di kelas menengah. Negeriku Argentina terjebak sampai 40 tahun lebih, sebagai negara kelas menengah".

"Dari contoh negara-negara tersebut, sudah semakin jelas kan apa rahasianya, Hengki ?", tanya Daniel.

"Belum, belum jelas", jawab saya sambil menggelengkan kepala. "Apa rahasianya ?",

"Rahasianya sangat gamblang, yaitu bahwa negara-negara yang TIDAK MEMPUNYAI sumber daya alam, justru mampu melompat dengan cepat. Jadi jebakannya adalah ketergantungan yang berlebihan pada sumber daya alam". Jawab Daniel sambil menekankan kata "tidak mempunyai".

"Sebagai contoh, Indonesia mampu meningkatkan GDP pada tahun 1970-an s/d 1980-an, dengan mengandalkan ekspor Migas dan Kayu. Walaupun terpaksa terpuruk lagi karena Krisis Moneter. Sedangkan 1990-an sampai hari ini (setelah era surplus ekspor Migas berakhir - red), Indonesia kemudian mengandalkan pada ekspor sumber daya alam, seperti Batu bara, Sawit(CPO) dan Bahan tambang lainnya. Kiat seperti ini tidak beda jauh dengan Argentina, dan dalam jangka panjang sebenarnya relatif berbahaya". Daniel semakin mengelaborasi.

"Lihatlah kesulitan-kesulitan yang dihadapi Indonesia dalam melepaskan ketergantungan tersebut. Sebagai contoh melepaskan pendapatan tambahan dari pajak ekspor CPO, kesulitan menerapkan Undang-undang Minerba untuk memaksa pengolahan bahan tambang di Indonesia dan problematika melepaskan subsidi BBM".

Mulailah saya sedikit mengerti maksud Daniel dengan "jebakan". Kemudian saya langsung bertanya. "Lalu bagaimana caranya, supaya Indonesia tidak terjebak seperti Argentina ?", tanya saya.

Akhirnya dalam menjawab pertanyaan terakhir ini, Daniel menyampaikan filosofinya, "Negara, Perusahaan, dan Keluarga, komponen dasarnya adalah orang atau individu. Sebagai contoh ada keluarga kaya yang memanjakan anaknya sejak kecil. Sehingga anak-anaknya tidak mempunyai cita-cita dan tidak memiliki mental bertarung, bahkan sang anak hanya ingin menghabiskan kekayaan orang tuanya. Tetapi ada juga keluarga kaya, yang justru mendidik anak-anaknya, secara spartan. Walaupun sebenarnya mereka mampu hidup berlebihan, keluarga tersebut justru menyiapkan anak-anaknya untuk tidak hanya hidup dalam keterbatasan, tetapi melatih sang anak untuk menjadi petarung yang tangguh, dan mampu bersaing di dunia nyata."

Saya hanya bisa menjawab, "Hmmm," sambil merenung. Itulah saran dari sahabatku Daniel sang CEO dari Argentina.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=387