Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Migas
Tahukah anda dengan "Bakken boom" ?
Sabtu, 27 Desember 14 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Tahukah anda kenapa harga minyak bumi akhir-akhir ini "terjun bebas" ?. Mungkin salah satu penyebabnya adalah gara-gara adanya sepasang suami-istri, yang mempunyai anak sampai 13 anak. Lho, maksudnya bagaimana ?.

Keputusan aneh

Dengan agak berteriak, pada tanggal 27 November 2014 di Vienna, Ali Al Naimi Menteri Minyak Bumi dari Saudi Arabia membuat pernyataan dengan lantang di sidang produsen Minyak Bumi dunia (OPEC) , "Kami tidak akan menurunkan produksi. Bila perlu menambah produksi !!". Ajakan aneh pada sebuah sidang yang bertujuan membahas "jatuh bebasnya" harga minyak bumi dunia dari sekitar US $ 110 per barrel, menjadi dibawah $ 80 per barrel. Sebagaimana diketahui Saudi Arabia adalah salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia. Dengan Saudi Arabia tidak menurunkan pasokan, maka harga minyak bumi bisa semakin meluncur turun. Namun akibat dari ajakan keras dari Menteri Saudi tersebut, akhirnya sidang OPEC justru memutuskan, untuk tidak menurunkan produksi mereka. Reaksi pasarpun mudah ditebak. Harga minyak bumi dunia terus menurun ke level US $ 70, mengacu pada prinsip "supply & demand", yaitu bila pasokan jauh lebih banyak dari konsumsi, maka harga di pasar akan terus turun.

Uniknya, dengan menurunnya harga minyak bumi tersebut, kenapa para anggota OPEC justru tertawa dan bergembira, dengan keputusan yang telah mereka ambil di Vienna ?. Bukankah harga minyak bumi yang rendah membuat pendapatan mereka berkurang ?. Selidik punya selidik, rupanya ada rahasia yang tidak diketahui oleh masyarakat awam, tetapi diketahui oleh para pelaku bisnis minyak bumi di dunia. Rahasia tersebut lebih dikenal dengan nama "Bakken Boom". Lalu apa pula ini ?. Kenapa para anggota OPEC justru bergembira dengan turunnya harga minyak bumi terkait ke “Bakken boom” ?.

Henry O Bakken

Di awal tahun 1900-an, Otto dan Mary Bakken, keluarga imigran dari Norwegia, menetap dipinggir air terjun Sungai Thief, Minnesota, Amerika Serikat. Pasangan ini rupanya cukup produktif dan kemudian mempunyai anak sampai 13 orang. Karena anak mereka sangat banyak, dan tanah ladang mereka yang relatif sempit di Minnesota, banyak yang mengajak keluarga ini untuk mengembara dan membuka lahan baru di negara bagian Dakota Utara. Sebagaimana diketahui, di negara bagian Dakota Utara, areal yang bisa digarap sangat luas. Penduduknya hanya ribuan orang saja pada saat itu. Sehingga seorang pendatang sangat mudah bisa memiliki lahan yang luar biasa luasnya.

Salah satu anak dari pasangan Mary dan Otto Bakken, adalah Henry O Bakken. Pada tahun 1952, karena cuaca yang tidak menunjang untuk bercocok-tanam, ia mempunyai inisiatif untuk tidak hanya berladang, tetapi berinvestasi dengan memberikan kesempatan kepada para pengebor minyak, untuk mengebor sebuah sumur diladangnya. Sumur yang dibor tersebut, kemudian diberi nama "Bakken well", menghasilkan minyak cukup lumayan. Penemuan tersebut memacu banyak pengeboran minyak bumi pada tahun 1952, di negara bagian Dakota utara lainnya. Namun setelah Bakken well menghasilan minyak bumi sebanyak 252.000 barrel, produksinya kemudian stop. Tetapi para ahli perminyakan dan pengebor di ladang Bakken sangat tahu bahwa sebenarnya minyak bumi masih sangat banyak tersimpan di bawah kaki mereka. Namun minyak bumi tersebut tidak bisa di-bor menggunakan teknologi pengeboran konvensional.

Sebagaimana diketahui, teknologi pengeboran konvensional, yang selama ini dilakukan di Indonesia, menyedot cadangan minyak bumi dari batuan yang berbentuk seperti mangkok bakso terbalik. Jadi dengan beberapa sedotan (sumur bor) yang relatif dalam, dan dilakukan ke berbagai arah, maka isi minyak bumi dalam seluruh mangkok bakso bisa dihabiskan. Sedangkan Ciri cadangan minyak bumi di Dakota utara, tidak berbentuk mangkok terbalik, tetapi berbentuk seperti sebuah martabak raksasa, tipis tapi sangat luas sekali. Sehingga cara pengeboran konvensional tidak bisa untuk menyedot minyak bumi secara ekonomis di Dakota utara.

Teknologi pengeboran mendatar dan ledakan beruntun

Pada tahun 2007, para ahli pengeboran di Amerika Serikat menyempurnakan teknologi pengeboran mendatar. Sehingga seluruh lapisan tipis cadangan minyak yang berbentuk “martabak” di dalam perut bumi, bisa dijangkau dari permukaan. Selain teknologi pengeboran mendatar, ditemukan pula cara untuk meningkatkan jumlah retakan (memberikan saluran yang sangat banyak agar minyak bumi mengalir) melalui peledakan beruntun. Bayangkan perut bumi seperti kaca jendela di rumah. Bila kaca dilempar, maka akan terjadi retakan yang menjalar ke seluruh kaca. Didalam bumi, bila diledakan secara beruntun, maka pada batuan akan terjadi retakan-retakan searah dengan lokasi pengeboran mendatar. Retakan-retakan ini menjadi saluran minyak bumi untuk bisa mengalir ke permukaan, karena minyak bumi bila ditekan oleh beratnya “tanah”, akan mengalir ke rongga kosong. Seperti udara dalam balon yang mengalir keluar, bila terbuka ikatannya.

Hebatnya dengan teknologi ini, daerah Bakken di Dakota utara, tiba-tiba bisa mempunyai cadangan minyak sebesar 7,3 milyar barrel. Dalam sebuah daerah yang relatif kecil tersebut, cadangan minyak buminya bisa sekitar 2(dua) sampai 3(tiga) kali dari seluruh cadangan minyak bumi Indonesia. Saat ini sedang terjadi banyak “ledakan” kota-kota minyak baru akibat penggunaan teknologi ini. Salah satu daerah tersebut adalah ladang Bakken dan “booming” perekonomian ini, lebih dikenal dengan nama “Bakken Boom”. Adapun minyak yang dihasilkan dengan teknologi pengeboran mendatar adalah “Shale oil”. Untuk mengenang pengeboran pertama pada formasi batuan jenis “martabak” tersebut, maka formasi ini disebut juga “Bakken Formation” (lihat gambar). Luar biasanya, produksi minyak bumi Amerika Serikat dengan tambahan produksi melalui Shale oil, maka pada tahun ini sudah bisa mencukupi konsumsinya. Sehingga untuk pertama kali setelah puluhan tahun, Amerika Serikat tidak lagi mengimpor minyak bumi (lihat chart dikanan).

Lalu apa hubungannya dengan kegembiraan para anggota OPEC ?

Sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa anggota OPEC semakin khawatir dengan kemandirian pasokan minyak bumi di Amerika Serikat dan juga peningkatan produksi Shale oil. Lihat chart dimana produksi minyak bumi Amerika, sudah membuat negeri tersebut mandiri. Semakin teknologi ini dikuasai dan biaya produksinya semakin rendah, maka minyak bumi akan semakin jatuh harganya. Saat ini titik impas biaya produksi Shale oil ada di kisaran angka US $ 60 per barrel.

Sehingga bila harga minyak bumi dunia terus menurun mendekati angka US $ 60 per barrel, akan banyak produsen Shale oil yang bangkrut. Dengan menukiknya harga minyak bumi akibat keputusan OPEC, sudah beberapa produsen shale oil “ambang batas” yang mulai merugi dan stop produksi. Inilah yang di-skenariokan oleh para produsen OPEC. Sebuah upaya kompetisi bisnis skala raksasa.

Demikian sharing kami.

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=388