Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Agro & Biofuel
Melemahnya Rupiah dan operasi rahasia di tahun 1942
Sabtu, 27 Desember 14 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Jepang menyerbu lokasi hutan karet

Pada bulan Desember 1941, armada Amerika Serikat di Pearl Harbor, Kepulauan Hawaii, dihancurkan pengebom Jepang. Pada saat yang bersamaan, tentara Jepang menyerbu dengan cepat Semenanjung Malaya (jajahan Inggris yang nantinya menjadi negara Malaysia dan Singapore). Lalu beberapa bulan kemudian, pada bulan Maret 1942 Jepang juga melakukan serbuan kilat serupa di Pulau Sumatra. Saat itu Pulau Sumatra masih menjadi jajahan Belanda, yang disebut "Dutch East Indies". Pada awalnya, tentara Sekutu mengira bahwa tentara Jepang menyerbu dengan kilat berbagai daerah di Pulau Sumatra, adalah untuk menguasai lapangan-lapangan minyak di Pulau Sumatra. Tetapi kenapa tentara Jepang langsung menyerang semenanjung Malaya hampir berbarengan dengan menyerang Pearl Harbor dan juga kenapa kemudian Jepang menguasai Pulau Sumatra ?.

Setelah dikaji lebih dalam, ternyata serangan Jepang tersebut mempunyai tujuan strategis lain. Selain menguasai lapangan-lapangan minyak di Pulau Sumatra, rupa-rupanya Jepang bergerak cepat ke semenanjung Malaya dan Pulau Sumatra, adalah untuk menguasai seluruh wilayah hutan penghasil karet alam terbesar di dunia saat itu. Gebrakan cepat tersebut membuat Presiden Amerika, Franklin D Roosevelt langsung terperangah. Tidak mungkin Amerika bisa melaksanakan perang melawan Jepang, tanpa memiliki sumber karet alam. Bagaimana caranya membuat ban untuk kendaraan perang yang akan sangat banyak jumlahnya ?.

Operasi rahasia dan karya Calvin Fuller

Menyadari akan kelemahannya, pada bulan April tahun 1942, Presiden Roosevelt memerintahkan para ahli-ahli Kimia di Amerika Serikat untuk segera menyempurnakan pembuatan karet alam sintetis. Karet alam sintetis, saat itu memang bisa dibuat dalam skala kecil, namun belum pernah diproduksi secara besar-besaran. Karet sintetis adalah alternatif dari karet alam, yang selama ini diproduksi dari getah pohon karet. Dengan seluruh perkebunan pohon karet praktis dikuasai oleh tentara Jepang, maka Amerika Serikat harus berkejaran dengan waktu, untuk bisa memproduksi secara massal karet sintentis sesegera mungkin.

Tugas rahasia ini kemudian dibebankan kepada para peneliti Kimia di Bell labs, yang dipimpin oleh seseorang ahli Kimia bernama Calvin Souther Fuller. Calvin adalah seorang inventor yang sangat luar biasa. Salah satu hobbynya, bila tidak meracik berbagai zat-zat kimia, adalah menanam Tomat di kebun-nya. “Menanam tomat adalah mencari inspirasi dari Tuhan”, tulisnya. Dengan keahlian kimianya, ia bisa menggabungkan Boron kedalam Silicon, yang kemudian menjadi cikal bakal teknologi Photo-Voltaic. Sebuah teknologi yang mampu untuk menangkap sinar matahari dan kemudian mengubahnya menjadi tenaga listrik.

Hanya dalam waktu 4(empat) bulan, pada bulan Agustus 1942, Calvin berhasil menemukan resep pembuatan karet Sintetis, yaitu mencampur Butadiene dan Styrene menjadi sebuah polimer yang hampir persis seperti karet alam. Sebuah terobosan teknologi yang sangat luar biasa dalam waktu yang sangat pendek. Sehingga nantinya di tahun 1944, Amerika Serikat, melalui 50 pabrik karet sintetis, bisa memproduksi karet sintetis dalam jumlah 2(dua) kali dari total produksi karet alam di dunia saat itu. Lalu apa bahan bakunya ?.

Siapa yang harus saya marahi ?.

Pada Sabtu 6 Desember 2014, Presiden Jokowi mengunjungi Sekolah Peternakan Rakyat di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Seorang petani karet, menumpahkan keluh kesahnya karena harga karet yang dijualnya hanya Rp 5.000 per kilogram, dari harga sebelumnya yang pernah mencapai kisaran Rp 10.000 hingga Rp 15.000. "Bagaimana ini, Pak, dengan kenaikan harga, terus terang kami kesulitan dengan situasi ini, tolonglah pak pemerintah bisa tentukan harganya," tutur sang petani. "Lho, jadi siapa yang harus saya marahi ini?" tukas Presiden Joko Widodo, ketika mendengar petani karet mengeluhkan jatuhnya harga jual karet.

Apa hubungan karya Carvin Fuller, keluhan petani di Banyu Asin dan jatuhnya nilai tukar Rupiah ?

Banyak yang tidak tahu bahwa Karet Sintetis, yang resepnya dibuat oleh Calvin Fuller di tahun 1942, diproduksi dengan bahan baku Minyak bumi. Bila harga Minyak Bumi jatuh dikisaran US $ 60 per barrel, maka harga Karet sintetis menjadi jauh lebih murah dari harga Karet alam yang diproduksi dari pohon karet. Jatuhnya harga Karet Sintetis yang mengikuti jatuhnya harga minyak bumi dari US $ 110 ke US $ 60, membuat harga karet alam juga jatuh berbarengan. Padahal selama ini, Karet alam adalah salah satu penyumbang devisa ekspor bagi Indonesia. Ekspor Indonesia selama ini adalah sekitar 2,5 juta ton per tahun dengan harga US $ 3.000 per ton, atau menyumbangkan US $ 7,5 milyar per tahun. Dengan jatuhnya harga Karet Alam, maka salah satu penyumbang devisa Indonesia menjadi jatuh sekitar separohnya.

Kejadian pada Industri Karet juga sedang terjadi pada industri kelapa sawit di Indonesia. Dengan harga minyak bumi jatuh, maka produk-produk kimia seperti detergent, kosmetik dll, yang selama ini dibuat dari bahan baku kelapa sawit, bisa dialihkan dengan menggunakan bahan baku minyak bumi, yang saat ini jauh lebih murah. Salah satu contohnya yang paling gamblang adalah Biodiesel. Jika harga minyak bumi jatuh, maka harga Biodiesel tidak bisa mengejar ke-ekonomian dibanding harga Bahan Bakar Solar yang diproduksi dari Minyak Bumi. Bisa dilihat pada chart di kiri, bahwa harga Crude Palm Oil (CPO), saat ini sedang jatuh mendekati harga saat krisis setelah “Lehman shock”. Padahal CPO adalah salah satu soko-guru pemasok devisa dan penggerak ekonomi Indonesia.

Fundamental kita kuat ?

Membaca berita di banyak media, dimana para pimpinan dan pejabat negara menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat, rasa-rasanya statement tersebut perlu dikaji ulang.

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=389