Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : ICT
Misteri WhatsApp
Selasa, 07 April 15 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

"Pembicaraan ini tidak bisa disampaikan lewat telpon. Saya akan sampaikan secara langsung", kata ibunda dari Jan Koum pada tahun 1980-an. Mereka waktu itu tinggal di Ukraina, dimana pembicaraan telpon sangat mungkin untuk disadap oleh agen KGB, polisi rahasia Russia. Kala itu, Ukraina masih menjadi salah satu negara bagian dari Uni Soviet. Pada tahun 1992, keluarga Yahudi ini kemudian ber-emigrasi ke Amerika Serikat. Tetapi prinsip-prinsip tentang "kerahasiaan" ataupun perlunya menjaga "privacy" dalam setiap pembicaraan, menjadi prinsip hidup Jan Koum.

Jan Koum, saat remaja kemudian berkuliah di San Jose University, California dan bekerja di Yahoo. Uniknya, ia sempat melamar untuk bekerja di Facebook, tapi tidak diterima. Justru pada bulan Februari 2014, karya Jan Koum, dibeli oleh Facebook dengan harga US $ 22 milyar. Saat itu merupakan akuisisi sebuah aplikasi mobile, yang termahal dalam sejarah. Harganya setara dengan 6(enam) kali harga club sepakbola, seperti Manchester United atau Barcelona. Kita semua mengenalnya dengan sebuah aplikasi yang bernama "WhatsApp".

Dalam blognya, Jan Koum melaporkan bahwa pada awal 2015, jumlah pemakai aplikasi WhatsApp sudah mencapai 0,5 milyar pengguna di seluruh dunia. Pertumbuhannya-pun sangat luar biasa. Dalam beberapa tahun mendatang, diperkirakan pemakai WhatsApp bisa mencapai 1 milyar pengguna. Jarang ada aplikasi mobile, yang pemakainya tumbuh secepat WhatsApp.

Namun yang menjadi misteri bagi banyak pengamat bisnis adalah bagaimana WhatsApp mencari uang. Karena berbeda dengan bisnis model Google, Yahoo, Facebook ataupun beragam aplikasi game, biasanya pendapatan aplikasi diperoleh dari penayangan iklan, ataupun dari pembelian aplikasi saat mengunduhnya (download). Nah, pada aplikasi WhatsApp semuanya serba gratis. Download aplikasinya gratis, dan pemakaian aplikasinya-pun gratis (tentu pemakai harus tersambung ke koneksi internet). Jika anda memakai WhatsApp, tidak pernah sedikitpun terganggu oleh secuilpun iklan di WhatsApp. Aplikasi ini pernah mencoba untuk meminta pengguna, membayar $ 0.99 untuk download atau berlangganan. Tapi akhirnya karena banyak permintaan (tentangan) dari para pemakai, modus pembelian ini tidak dilanjutkan lagi.

Jan Koum dalam tulisan-tulisan di blog-nya mencantumkan prinsip-prinsip menjaga independensi dan "privacy" ini secara gamblang. Ia mensyaratkan hal tersebut, saat Facebook mengakuisisi aplikasi karyanya. WhatsApp tidak pernah menanyakan nama, alamat e-mail, tanggal lahir, apalagi alamat rumah. Lalu bagaimana WhatsApp, atau sekarang Facebook, menghasilkan pendapatan dari Aplikasi ini ?. Banyak pengamat yang masih terus "garuk-garuk" kepala kebingungan dengan bisnis model WhatsApp. Tapi satu hal yang pasti bahwa semua data konversasi (chat), photo, music, video, yang bersliweran di WhatsApp, terus disimpan. Banyak yang menduga bahwa data tersebut diolah untuk kebutuhan pemasaran. Tapi ini hanya dugaan belaka, dan rasanya tidak mungkin Jan Koum menyetujui cara-cara tersebut.

Apapun misterinya, saya sangat menikmati aplikasi WhatsApp. Walaupun terkadang sering agak lambat, tapi rasanya setiap hari hampir secara rutin saya beberapa kali membukanya. Biasanya di pagi hari, saat makan siang dan saat menunggu kemacetan di Jakarta terurai, terutama saat berada di dalam mobil pada sore atau malam hari. Saya menggunakannya untuk menyapa teman-teman se-SMA, teman-teman seangkatan di ITB, teman se-kantor, teman mantan kantor, keluarga saya, keluarga istri saya, teman-teman yang hobby-nya sama dan banyak lagi. Saat ini WhatsApp bisa diakses dari desktop ataupun laptop dan juga punya fitur untuk digunakan menelpon dengan biaya murah antar sesama pemakai WhatsApp (masih untuk pemakai Android). Terima kasih Jan Koum dan terima kasih WhatsApp.

Salam
Hengki

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=392