Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Migas
Mungkinkah harga minyak bumi terjun bebas ke US $ 5 per barrel ?
Rabu, 22 April 15 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Wah gawat, nih”, kata seorang eksekutif perusahaan Migas di Indonesia kepada saya pada 9 April 2015 lalu. “Ada apa ?”, tanya saya. “Apakah pak Hengki tidak mengikuti perkembangan negosiasi antara Iran dengan pihak PBB ?.” Ia tampak heran bahwasanya saya tidak mengikuti perkembangan tersebut. “Harga minyak bumi bisa turun ke US $ 5 per barrel !!”,  lanjut sang eksekutif. Tanpa menjawab langsung, saya teringat akan sebuah anekdot dari bebeberapa tahun lalu.

Di tahun 2008, Pemimpin team negosiasi negara Paman Sam semakin hari semakin kesal dalam mencari kesepakatan dengan pihak Iran. Setelah sepertinya beberapa usulan diterima oleh Pihak Iran, keesokan harinya kesepakatan tersebut dimentahkan lagi, dengan kata-kata pendek, "Maaf kami sudah tidak sepakat lagi". Menghadapi para negosiator pihak Iran yang memang sulit untuk mencari titik temu, pihak Amerika-pun kemudian mengambil inisiatif untuk menuliskan kesepakatan-kesepakatan yang telah mereka capai, untuk ditulis dalam bahasa Parsi. Kemudian pihak Amerika meminta pihak Iran untuk menanda-tangani notulen tersebut. Keesokan harinya, sewaktu pihak Iran berbalik, dengan kesepakatan pada hari sebelumnya, maka pihak Amerika-pun menyodorkan notulen dalam bahasa Parsi yang sudah ditanda-tanda tangani oleh pihak Iran kemarin. Pihak Iran-pun tidak kehabisan akal, sewaktu disodorkan notulen tersebut, mereka berkata ringan, "itu bukan tanda tangan kami".

Itulah anekdot yang selalu diceritakan oleh Dick Cheney, wakil Presiden Amerika Serikat pada era Presiden George W Bush, dalam sulitnya ber-negosiasi dengan Pemerintah Iran. Inti dari pesan tersebut adalah, bahwa Amerika Serikat (dikala itu), merasa tidak ada gunanya untuk ber-negosiasi dengan Pemerintah Iran, terkait penghentian pengembangan senjata nuklir oleh Iran. Namun bak peribahasa “Lain koki, lain masakan”, Presiden Obama justru sebaliknya, ia malah berupaya keras untuk mendorong diperolehnya kesepakatan dengan pemerintah Iran. Obama mengirimkan Menteri Luar Negeri-nya John Kerry untuk mewakili pihak Amerika (lihat photo) dalam negosiasi kali ini. Kesepakatan ini bertujuan untuk menghentikan embargo oleh negara-negara barat kepada Iran, dengan imbalan bahwa pemerintah Iran akan menghentikan pengembangan senjata nuklirnya. Langkah Presiden Obama, ini sebenarnya sangat ditentang oleh pihak parlemen Amerika, yang sebagian besar dikuasai oleh partai oposisi - Republik.

Akhirnya pada tanggal 2 April 2015 lalu, seluruh anggota United Nation Security Council (Konsul keamanan PBB) mencapai persetujuan dalam bentuk kerangka kesepakatan, kapan embargo ekonomi kepada pihak Iran akan dicabut, sekaligus juga rencana penghentian pengembangan persenjataan nuklir oleh Iran. Kesepakatan ini langsung berdampak sangat luar biasa, khususnya terhadap prediksi harga minyak bumi dunia. Pada 7 April 2015, US Energy Information Administration (EIA) langsung meramal bahwa bila embargo terhadap Iran diangkat, maka harga minyak bumi dunia bisa terjun bebas ke harga US $ 5 sd $ 15 per barrel. Karena Iran dapat membanjiri pasar minyak bumi dunia dengan tambahan produksi minyak bumi sekitar 500.000 barrel s/d 1.000.000 barrel per hari. Pasar yang saat ini sudah relatif mengalami kelebihan pasokan dari permintaan. Berita inilah yang rupanya mengagetkan dan mengkhawatirkan, sang eksekutif migas Indonesia.

“Jangan khawatir, pak. Harga minyak bumi tidak akan terjun bebas karena adanya pencapaian kerangka kesepakatan dengan Iran tersebut”, kata saya kepada sang eksekutif. “Saya pribadi sudah cukup pengalaman ber-negosiasi dengan pihak Iran, yaitu saat industri pupuk akan membangun pabrik pupuk di Iran. Juga saat Pertamina akan membangun kilang di Indonesia dengan pasokan minyak bumi dari Iran”. Saya sempat bolak-balik Tehran ber-kali-kali untuk ber-negosiasi dengan para industriawan dan dengan para wakil dari pihak pemerintah Iran. Memang tidak mudah ber-negosiasi dengan mereka, dan memang terbukti akhirnya semua negosiasi kandas. Sampai saat ini, tidak ada satupun pengembangan industri yang dilaksanakan antara Indonesia dan Iran. Alasan utamanya, dari sudut pandang saya, Iran adalah sebuah negara yang sangat tua dan rakyatnya-pun sudah terlalu lama di-embargo. Keinginan bangsanya untuk selalu mandiri, memang sangat tinggi. Disatu sisi, keinginan untuk mandiri adalah sebuah aset yang positif, tetapi juga mempunyai sisi negatif, yaitu sangat sulit bekerja sama dengan negara lain. Dari pengalaman saya, tidak mudah memperinci kesepakatan “kerangka kerja sama” dengan pihak Iran (seperti yang dicapai PBB pada 2 April 2015 lalu), menjadi dokumen praktis yang dapat dilaksanakan di lapangan.

Ternyata memang betul, alih-alih harga minyak bumi terjun bebas, justru keadaannya terbalik, yaitu harga minyak bumi cenderung kembali meningkat. Nampaknya kesepakatan dengan pihak Iran sama sekali tidak berdampak, namun justru laporan EIA pada 14 April 2015, yang menyatakan bahwa produksi minyak bumi Amerika Serikat tidak meningkat sebagaimana sebelumnya diprediksi. Inventory minyak bumi Amerika Serikat hanya 1,3 juta barrel pada kwartal-1 2015, jauh dibawah prediksi 4,1 juta barrel yang diperkirakan sebelumnya. Informasi ini dan juga pertempuran di Yemen, langsung melambungkan harga minyak bumi diatas US $ 60. Ternyata upaya Saudi Arabia membanjiri pasokan minyak bumi dunia untuk menekan harga, membuat produksi minyak bumi Amerika jatuh kembali. Banyak perusahaan-perusahaan produsen minyak bumi di Amerika, yang menggunakan teknologi fracking, misalnya di Bakken field, terpaksa dihentikan karena tidak ekonomis pada harga minyak bumi rendah. Inilah yang menyebabkan rendahnya inventory minyak bumi Amerika dari yang diprediksi.

Demikian sharing informasi kami.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=393