Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Makro
Kenapa saya tidak khawatir dengan statement Dirut BCA
Senin, 27 April 15 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Kembali ke fundamental

“Pada Kuartal-1 ini, pertumbuhan di sektor perbankan sangat lemah. Saya kira semua perbankan begitu. Saya tidak tahu, setiap saya keliling ketemu nasabah, bisnisnya lesu. Bahkan sektor pendukung properti seperti kaca, gelas itu drop 30 persen," ujar Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk di Jakarta, pada Kamis (9/4/2015) lalu. Sebagai penanggung jawab perusahaan, berita seperti ini membuat saya langsung waspada. Walaupun tentunya semua pebisnis tahu bahwa saat ini harga minyak bumi dunia jatuh, harga kelapa sawit jatuh, harga karet alam jatuh, harga bahan tambang jatuh, Rupiah melemah tetapi dampak langsungnya di dunia perbankan barulah sekarang semakin gamblang.

Sejak belasan tahun, karena harus terus menerus memikirkan jalannya roda perusahaan, maka situasi seperti ini selalu memicu saya untuk secara tenang menganalisa keadaan, dengan menggunakan data yang dapat dipercaya. Analisa serupa, selalu saya lakukan saat terjadinya krisis moneter (1997 – 1998) dan juga saat terjadinya krisis “Lehman shock” (2007 – 2008). Itulah sebabnya, sejak tadi pagi saya kembali ke fundamental (“back to basic”). Caranya adalah dengan mempelajari dan membuka kembali semua data ekspor-impor dari tahun 2002 s/d hari ini. Data ini tersedia secara gratis dari Badan Pusat Statistik. Saya secara khusus mempelajari data ekspor-impor pada kwartal pertama, yaitu dari bulan January s/d Maret setiap tahunnya. Lalu saya bandingkan secara apple to apple dari tahun ke tahun. Berikut ini adalah tabel tersebut dalam milyar US $:

No

Penjelasan

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

1

Ekspor

12,8

15,1

15

19,8

22,4

25,5

33,6

23

35,5

45,3

48,5

45,3

44,2

39,1

2

Impor

6,6

8,3

10,2

13,5

13,2

15,5

29,2

19

29,9

38,7

45,8

45,4

43,2

36,7

 

Surplus

6,2

6,8

4,8

6,3

9,2

10

4,4

4

5,6

6,6

2,7

-0,1

1

2,4

Dari tabel diatas, saya menemukan beberapa hal yang menarik, khususnya terkait pada kurs konversi US $ ke Rupiah. Tentunya sudah diketahui oleh umum, bahwa bila ekspor - impor mengalami surplus, maka Rupiah cenderung akan menguat. Ada trend yang unik, yaitu bila surplus ini mencapai diatas $ US 6 milyar, pada 3(tiga) bulan pertama antara January s/d Maret, maka Rupiah bisa menguat di kisaran Rp 8500 s/d Rp 9500 per US $. Namun sebaliknya, bila surplus tersebut “hanya” dibawah < US $ 4  milyar, maka Rupiah-pun langsung melemah ke arah Rp 12.000 s/d Rp 13.000. Data ini sudah terbukti selama belasan tahun terakhir. Jadi penguatan Rupiah tentunya sangat tergantung pada angka psikologis tersebut, yaitu apakah bisa dicapai surplus sekitar US $ 2 milyar per bulan atau $ 6 milyar dalam 3(tiga) bulan. 

Lalu bagaimana prediksi kondisi perekonomian Indonesia kedepan ?

Perhatikan angka surplus dari tahun 2012 s/d hari ini. Pada Agustus 2012, saya sudah mulai meramal kondisi ekonomi, yang akan dialami pada hari ini (silahkan baca pada link berikut). Perhatikan surplus ekspor tersebut terus menukik turun sejak tahun 2012. Pada tahun 2013, saya mengulangi lagi dan menulis tentang perlunya upaya perbaikan agar terjadi peningkatan surplus ekspor, karena trend terus semakin memburuk dan malah defisit untuk pertama kalinya dalam belasan tahun (silahkan baca pada link berikut). Inti dari tulisan-tulisan saya adalah bagaimana mengurangi defisit di bidang Migas.  Di akhir tahun 2014 dan pada awal 2105, terjadilah 2(dua) perubahan fundamental yaitu anjloknya harga minyak bumi (ini diluar kendali pemerintah) dan juga pelepasan (pengurangan) subsidi bensin premium oleh pemerintah.  Dari 2(dua) perubahan fundamental tersebut, terlihat bahwa kinerja ekspor sudah mulai “rebound” surplusnya.

Memang keputusan untuk mencabut subsidi adalah sangat berat dan sangat tidak populer, tetapi data-data menunjukan bahwa fundamental ekonomi Indonesia, walaupun ditengah kelesuan dunia, justru cenderung semakin membaik. Mudah-mudahan kondisi buruk pada Perbankan Indonesia di Kwartal-1 2015, adalah akhir dari kinerja kebijakan perekonomian yang buruk selama ini. Tentu kita masih perlu terus mengamati perkembangannya dalam bulan-bulan mendatang.

Demikian sharing dan analisa pendek saya.

Salam
Hengki

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=395