Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Makro
Tahukah anda bahwa Indonesia mengalami surplus US $ 7,5 milyar di 2015 ?
Minggu, 24 Januari 16 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Persis seperti yang saya tulis di awal tahun 2015 lalu, bahwa Indonesia tidak akan mengalami krisis, sebagaimana yang diperkirakan banyak orang (Berikut tulisan saya tahun lalu). Data Biro Pusat Statistik yang baru saja keluar minggu ini, mengkonfirmasi prediksi tersebut (silahkan download di link ini). Secara singkat, terbukti bahwa di 2015, Indonesia mengalami surplus (Ekspor – Impor) sebesar hampir US $ 7,5 milyar.

Bandingkan dengan defisit di tahun 2014, yaitu sekitar US $ 2,2 milyar. Kuncinya memang sederhana, sebagaimana sering saya tulis selama ber-tahun-tahun, yaitu kurangi defisit Ekspor – Impor di bidang Migas. Caranya tentunya banyak, seperti mengurangi subsidi (mengurangi penyelundupan), memproduksi BBM di dalam negeri, mengolah minyak mentah Indonesia di Kilang Pertamina dll. Dengan defisit Migas diperkecil, maka surplus bisa tercipta. Berikut ini tabel singkatnya yang menunjukkan defisit Migas terjun dari US $ 13,4 milyar ke US $ 6 milyar :

Tetapi ternyata yang lebih spektakuler dari itu adalah peningkatan surplus Ekspor Non-Migas dari tahun 2014 sekitar US $ 11,2 Milyar ke US $ 13,5 milyar. Angka surplus Non-Migas ini membuat saya bertanda tanya, dari industri apa yang menyumbangkan peningkatan suprlus tersebut ?. Padahal setahu saya, komoditi seperti batu bara, kelapa sawit, karet, dll sedang jeblok. Inilah tabel jawabannya :

Kelapa sawit masih menjadi penyumbang terbesar, walaupun menyusut sekitar 11,4 % dari tahun 2014. Tetapi yang relatif bertahan dan bahkan meningkat adalah industri manufaktur seperti produksi mesin dan peralatan listrik, mesin dan peralatan mekanik, alas kaki, pakaian jadi, dll.  Saya kemudian masuk ke website Jakarta Stock Exchange, dan mengunduh data-data performance perusahaan-perusahaan Tbk, khususnya terkait industri manufaktur seperti produksi trafo, kabel, peralatan mekanik dll. Ternyata memang benar, keunggulan melemahnya Rupiah dan juga pengalaman manufaktur selama ini, membuat kinerja perusahaan-perusahaan manufaktur Indonesia ternyata lebih baik di 2015 dibanding tahun 2014, khususnya melalui perdagangan ekspor.

Sebuah surprise yang menggembirakan bagi saya pribadi. Bahwa Indonesia sudah mulai tidak lagi mengandalkan surplus devisa dari menjual komoditi kekayaan alam Indonesia.

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=403