Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Iptek & Kesehatan
Perkembangan terakhir kegiatan mulia rekan Andreas Japar
Senin, 11 Juli 16 - by : Triharyo Indrawan

Untitled document

Perkembangan kondisi pelayanan cuci darah di Indonesia

Indonesia memiliki jumlah pasien yang cukup banyak, menurut statistik setiap satu juta penduduk terdapat 400 orang yang menderita penyakit gagal ginjal, sehingga total pasien diantara 250 juta penduduk Indonesia adalah sekitar 100.000 pasien. Namun saat ini baru 40.000 pasien yang terlayani atau memiliki akses untuk melakukan cuci darah.

Dengan diadakannya asuransi nasional yang terintegrasi, BPJS sekarang mengcover sekitar 90% pasien cuci darah (sekitar 36.000 pasien) di Indonesia dan sisanya membayar dengan kemampuan sendiri. Walaupun terdapat asuransi BPJS, memang biaya yang tadinya menjadi halangan sudah dapat teratasi. Namun apabila kita mengunjungi sarana cuci darah di rumah sakit pemerintah, maka banyak pasien yang harus antri untuk menunggu giliran cuci darah. Pada umumnya, rumah sakit pemerintah melayani para pasien gagal ginjal ini sampai 3 shift (satu shift = 5 jam pelayanan).

Dengan kata lain, terbatasnya fasilitas sarana cuci darah menjadi halangan terbesar bagi pasien terutama pasien yang berada di daerah-daerah terpencil. Andreas bersama rekan-rekannya berusaha untuk membuka klinik-klinik cuci darah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Klinik ini dirancang untuk bekerja sama dengan BPJS, sehingga dapat melayani pasiennya secara gratis atau dengan harga yang relatif murah, namun tidak murahan (kualitasnya). Pelayanan ini mempunyai kualitas yang sama dengan pelayanan untuk pasien kelas menengah keatas, khususnya bila ditinjau dari sudut medis. Untuk klinik kategori ini, Andreas mengutamakan unsur kegiatan sosial dengan penerapan strategi pengelolaan yang sederhana dan tepat.

Simbiosis mutualisme antara pihak swasta dan pemerintah

Dapat dibayangkan bahwa satu orang pasien cuci darah membutuhkan biaya sebesar Rp 100.000.000 pertahun sehingga BPJS yang baru saja di perbaharui akhir-akhir ini akan mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengcover jenis terapi yang termasuk dalam salah satu penyakit berat ini. Dalam penggantian terhadap rumah sakit dan sarana hemodialisis lainnya, BPJS memberikan pembayaran yang berbeda-beda untuk setiap kelas rumah sakit, yaitu Rp 1,300,000  untuk rumah sakit kelas A, dan Rp 980,000 untuk rumah sakit kelas B , Rp 890.000 untuk rumah sakit kelas C dan Rp 812.000  untuk rumah sakit kelas  D. Untuk klinik cuci darah (diluar rumah sakit) dikategorikan kelas D.

Kemudian lain lagi untuk Rumah Sakit Khusus seperti Rumah Sakit Kanker atau rumah sakit rujukan nasional akan dibayar oleh BPJS lebih dari Rp  2.000.000. Dari perbedaan biaya ini sebetulnya alat dan bahan yang digunakan adalah sama antar kelas rumah sakit dan klinik sehingga dengan banyaknya pendirian klinik secara otomatis akan membantu pemerintah mengurangi biaya cuci darah. Sedangkan pemerintah sendiri belum dapat mendirikan sarana kesehatan secara merata sehingga pihak swasta sangat berperan untuk dapat mendirikan sarana kesehatan berupa klinik, pendirian klinik bukanlah tanpa alasan, selain dekat dengan masyarakat, pendirian klinik juga lebih sederhana dan tidak memakan waktu dan biaya sebesar pendirian rumah sakit. Kedepannya Indonesia diharapkan memiliki rasio sarana kesehatan yang seimbang dengan jumlah pasien diberbagai wilayah nusantara.

Bagaimana kiat Andreas menghimpun dana sosial

Dalam menghimpun dana, Andreas bekerja sama dengan banyak pihak. Sebut saja Yayasan Kesejahteraan Muslimat Nahdlatul Ulama (YKMNU). Kerja sama ini sampai sekarang telah menghasilkan beberapa Klinik Cuci darah (Hemodialisis) dengan nama KLINIK MUSLIMAT NU CIPTA HUSADA, salah satu klinik yang pertama kali di buka berada di Jl. Hang Tuah 1 No. 12, Kebayoran, Jakarta Selatan (Tel: 021 7243220).

Kemudian yang kedua yaitu KLINIK MUSLIMAT NU CIPTA HUSADA 2 yang beralamat di Jl Langit-Langit No.12, Kampung Ambon, Jakarta Timur (Tel: 021 6627657) , selain di Jakarta, YKMNU telah mempercayakan beberapa lokasi miliknya di daerah Jawa untuk di jadikan Klinik Cuci Darah seperti di Purworejo dan Rembang.

PT Masa Cipta Husada besutan Pak Andreas Japar bersama ke tiga rekan lainnya ini menjadi payung bagi klinik-klinik dan Unit Hemodialisis baik secara KSO maupun manajemen kontrak. Dapat diketahui bahwa untuk membangun satu klinik dengan kapasitas 10 unit mesin cuci darah berikut perlengkapannya, memerlukan biaya sekitar Rp. 2 Milyar di luar perbaikan gedung. Padahal untuk melayani pasien yang kurang mampu, investasi tersebut harus diperoleh dari donasi.

Untuk ini, Andreas mengajak organisasi sosial seperti Lions Club, dimana anggotanya bisa memberikan donasi untuk membeli mesin cuci darah. Apabila 10 unit mesin cuci darah bisa disumbang oleh 20-100 anggota Lions Club, maka biaya yang diperlukan menjadi ringan dan bisa ditetapkan tarif cuci darah yang sangat murah dan bahkan gratis dengan menggunakan fasilitas BPJS. Dana CSR pun menjadi sumber dana yang baik untuk membangun klinik cuci darah, sehingga memberikan mamfaat tidak hanya bagi perusahaan namun juga masyarakat luas, dana ini tidak seperti pengelolaan dana CSR lainnya yang langsung habis, namun akan dikelola dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Pengelolaan dengan mengandalkan BPJS

Setelah klinik berhasil didirikan maka harus difikirkan keberlanjutannya untuk terus melayani pasien dengan usaha yang terbaik, oleh karena itu kelancaran arus kas sangat dibutuhkan untuk mempertahankan bahkan mengembangkan klinik-klinik yang telah berjalan.

Salah satu sumber terbesar pemasukan dana saat ini adalah berasal dari BPJS. Sampai sekarang BPJS sudah bekerja dengan baik, walaupun banyak pemberitaan yang menerpa, namun BPJS telah melaksanakan fungsinya dengan komitmen yang tinggi. Komitmen ini diwujudkan dengan pembayaran yang dilakukan tepat waktu dan birokrasi yang tidak berbelit-belit.

PT Masa Cipta Husada telah mendapat sertifikat ISO 9001 mengenai Manajemen Mutu untuk menjaga kualitas pelayanan yang tidak kalah dengan pelayanan di rumah sakit besar. Andreas juga mengajak siapa saja yang ingin beramal dan melakukan kegiatan sosial untuk mendonasikan uangnya dalam membeli mesin pencuci darah untuk disumbangkan di klinik-klinik tersebut. Bagi yang berminat melakukan kegiatan sosial, Bagi pasien yang sulit mencari tempat cuci darah (baik di Jakarta maupun didaerah) bisa menghubuni HP 0818841050 dan email mlhusada@yahoo.co.id.

Tidak lain saya mengucapkan selamat kepada Andreas dan apresiasi yang tinggi atas segala upaya-upayanya untuk menolong para pasien dan penderita penyakit gagal ginjal di Indonesia. Saya tahu bahwa Andreas adalah pelopor konsep dan pelaku.......”Do business with your heart”. Marilah ke berbisnis dengan hati kita. Lihat foto Andreas diatas (paling kanan) bersama Menteri Agama saat mengunjungi Klinik Cipta Husada.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=411