Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Mengenang salah satu bapak energi Indonesia, disaat usianya 60 tahun
Rabu, 16 Nopember 16 - by : Triharyo Indrawan

Untitled document

Akuisisi Shell

Disaat ia berusia 52 tahun, sang dokter yang berkulit hitam kelam, terus menerus tidak henti-hentinya memikirkan pengembangan industri minyak dan gas bumi di Indonesia. Pada bulan Januari 1966, ia secara berani mengakuisisi seluruh aset kilang milik Shell BV di Indonesia, dengan nilai $ 110 juta dan kemudian melunasinya hanya dalam waktu 5(lima) tahun. Akuisisi bernilai raksasa pertama dan pelunasan yang tercepat dalam sejarah Indonesia.

Skema kontrak bagi hasil

Di usianya yang ke-53, pada tahun 1967, ia ciptakan skema investasi minyak bumi, yang menjadi contoh dan acuan kontrak bagi hasil pertama di seluruh dunia. Dengan skema tersebut, Indonesia kemudian bisa menjadi salah satu pengekspor minyak bumi terkemuka di dunia dan menggabungkan perusahaan terbelakang Pertamin dan Permina, menjadi sebuah perusahaan raksasa yang bernama Pertamina.

Pengembangan Bisnis LNG

Tidak puas dengan melejitnya eksplorasi dan produksi minyak bumi di Indonesia, sang dokter medis, yang tidak pernah menerima pendidikan ke-insinyuran, mulailah ia mengembangkan bisnis LNG di Indonesia. Pada umurnya yg ke-57 tahun, pada tahun 1971, ia rancang skema investasi LNG, yang untuk pertama kalinya diterapkan di dunia.

Ia kembangkan lapangan gas di Lhokseumawe, Aceh menjadi Kilang-Kilang pengekspor LNG dari Arun, ke seluruh dunia. Berkat buah tangannya, Indonesia kemudian menjadi produsen LNG terbesar di dunia, dimana skema pengembangan LNG Arun tersebut, nantinya akan menjadi contoh cara mengembangkan investasi LNG di seluruh dunia.

Sebuah senja di bulan Oktober tahun 1973

Setelah berhasil mengakuisisi Shell BV. Setelah sukses mengembangkan skema bagi hasil untuk eksplorasi dan produksi minyak bumi di Indonesia. Setelah tuntas memulai pembangunan proyek LNG Arun. Pada umurnya yang ke-59, pada sebuah sore hari, tahun 1973, sang dokter berkesempatan berkunjung memakai mobil bergigi empat, ke kawah Kamojang.

Disitulah ia mendengar tentang potensi energi panas bumi Indonesia. Di kawah Kamojang-lah, untuk pertama kalinya, sang dokter menemukan sebuah idea untuk kiat pengembangan investasi energi panas bumi di Indonesia. Sebuah skema investasi yang masih digunakan sampai hari ini.

Mengenang sang dokter

Dokter tersebut bernama Ibnu Sutowo. Di usianya yang hampir mendekati 60 tahun, ia tetap terus berkarya untuk negerinya. Dalam rangka mengenang salah satu karya beliau, pada Minggu 30 Oktober 2016, rombongan alumni ITB angkatan 1977, khususnya Alumni Teknik Kimia - TK77 (yang usia rata2nya mendekati 60 tahun) berkunjung ke Kamojang.

Untuk mendapatkan semangat inspiratif Ibnu Sutowo, rombongan TK77, secara khusus mengunjungi sumur panas bumi perdana yang diresmikan oleh Ibnu. Pada papan peringatan tertulis bahwa sumur perdana di Kamojang tersebut diresmikan pada tanggal 2 September 1974. 2(dua) tahun kemudian, ia tidak menjabat lagi sebagai Dirut Pertamina. Ibnu melanjutkan kariernya dengan mendirikan perusahaan baru bersama rekannya di Pertamina, yaitu Tirto Utomo. Perusahaan baru tersebut diberi nama PT Golden Mississippi. Perusahaan ini menjadi sangat terkenal memproduksi air minum dengan merk Aqua.

Wilayah Kamojang yang menjadi tempat inspirasi pak Ibnu pada tahun 1973, sudah menghasilkan ratusan MW listrik untuk Jawa Barat, selama 40 tahun lebih. Pembangkitan listrik tersebut terlaksana tanpa membakar seliter bensin ataupun setetes solar. Insya Allah dalam waktu dekat, Indonesia akan menjadi produsen energi panas bumi terbesar di dunia. Amien YRA.

Demikian sharing kami.

Salam
Hengki 

Nb:  

Tulisan diatas disarikan dari buku Ibnu Sutowo, "Saatnya saya bercerita" yang ditulis oleh Ramadhan KH. Pesannya adalah - Jangan pernah merasa terlalu tua, untuk tetap terus berkarya.

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=414