Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Agro & Biofuel
Produsen Biofuel mati ?
Senin, 04 Februari 2008 - by : admin
From: Wahyoe Prawoto

To: ge77@bhaktiganesha.or.id

Sent: Tuesday, January 29, 2008 9:17 AM

Subject: [ge77] Produsen kecil akan mati [was Re: Harga Patokan CPO hari ini]

Buat yang masih peduli GE77,

Istri saya bilang bahwa di salah satu diskusi di salah satu TV dengan salah satu pengamat ekonomi belum lama ini disebutkan bahwa produsen bio-fuel yang kecil akan segera tutup, tidak dapat bertahan. Yang dapat bertahan hanya yang besar2. Sayang dia lupa di TV mana disiarkan dan siapa nama pengamat tsb.

Apakah ada diantara kawans yang melihat langsung acara tsb? Berapa ukuran produsen kecil dan berapa yang disebut besar? Apa sama sekali tidak ada solusinya?

Salam,

wp


From: ge77-bounce@bhaktiganesha.or.id On Behalf Of Eddy

Sent: Wednesday, January 30, 2008 7:14 AM

To: ge77@bhaktiganesha.or.id

Subject: [ge77] Produsen Biofuel mati ?

Dalam pemikiran saya, dengan kondisi harga CPO seperti sekarang maka produsen biodiesel yang akan dapat survive adalah yang menguasai dari hulu yaitu bahan bakunya sendiri, jadi tidak tergantung besar kecilnya. Buat mereka yang menguasai CPO dan lebih ke hulu lagi kebun Kelapa Sawitnya, tinggal ngatur si CPO mau dialirkan kemana; ekspor sebagai CPO, pabrik minyak goreng (yang mungkin juga milik sendiri), pabrik turunan CPO (mentega, oleo-chemical, dll), pabrik bio-diesel, dll, dan cari optimasinya.

Yang menengah/kecil seperti PT Ganesha Energy 77 - GE77 (karena ada yang lebih kecil seperti PT.EAI dan milik BPPT) menurut saya masih punya harapan hidup dan maju (tentunya juga tergantung pengelolaannya), asalkan menguasai bahan baku dan/atau punya pasar. Bagusnya GE77 melakukan KSO dengan anak perusahaan PTPN IV yang punya bahan baku (CPO berlimpah) sekaligus sebagai pasar (untuk penggunaan bahan bakar ramah lingkungan di perusahaan). Pabrik yang lebih kecil bisa saja menguasai bahan baku (misalnya minyak goreng bekas atau fraksi CPO yang kwalitas dan harganya dibawah), dan juga punya pasar, misalnya Biodiesel sebagai additive Solar.

Jadi, GE77 masih dapat hidup. Bahkan kita bisa berharap GE77 berkembang kalau penguasaan bahan baku dan pasar bisa diperluas.

Untuk bahan baku, alternatif yang sangat menarik adalah Minyak Jarak Pagar (Crude Jatropha Oil=CJO) karena dengan tingkat harga CPO sekarang sebagai yang disubstitusi, maka keekonomian Jarak Pagar jadi agak menarik. Disisi lain, CJO dapat menghasilkan Biodiesel yang lebih mahal di pasar dunia karena "winter grade" yaitu titik bekunya dibawah 0 derajat Celcius (bandingkan dengan Biodiesel ex CPO yang 16 derajat) seperti halnya Biodiesel yang dihasilkan dari kedelai, rapeseed, bunga matahari dll yang harganya diatas CPO. Sayangnya belum ada penanaman Jarak Pagar besar2an (perlu +/- 1000 hektar kebun untuk mensupply pabrik GE77 dengan kapasitas rata2 10 ton biodiesel/hari), yang dapat membuktikan kehandalan supply yang kontinyu dan keekonomian yang memadai. Pengembangan penanaman Jarak Pagar ini masih perlu waktu karena teknologi budidayanya belum mature sehingga masih dipandang banyak resiko yang harus dihadapi.

Salam

Edy Entum

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=49