Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Migas
Minyak bumi US $ 117 per barrel - mungkinkah solusinya sumur tua ?
Selasa, 22 April 08 - by : Triharyo (Hengki)

Untitled document

Saat ini sedang ada “kekhawatiran” tingkat tinggi bahwa target APBN untuk “lifting” minyak di tahun 2008, tidak akan tercapai. Pada saat menyusun APBN 2008, “ibu Sri Mulyani sudah menyampaikan bahwa target 1,034 juta barrel di APBN 2008 jangan sampai jadi pepesan kosong”. Akhirnya DPR dan pemerintah menyetujui target 927.000 barrel minyak per hari. Tapi nampaknya pada Triwulan-1 2008, target lifting ini belum tercapai. Padahal Priyono, alumni ITB dari Geologi angkatan 1976 yang menjadi kepala BP Migas baru, juga mencanangkan dan menjanjikan untuk mengejar peningkatan target Lifting ini. Karena harga minyak bumi terus meroket diatas US $ 117 per barrel (20 April 2008), maka produksi minyak nasional menjadi sangat penting. Dengan kata lain, target lifting minyak harus terlampaui jika tidak ingin APBN terbebani. Salah satu solusi yang ditawarkan pemerintah adalah mengembangkan kembali sumur-sumur tua. Untuk ini, pihak pemerintah telah merevisi Peraturan pemerintah tentang pengelolaan sumur-sumur tua. Dari 13.824 sumur tua di seluruh Indonesia, diharapkan 5000 sumur masih mampu memproduksi 5.000 s/d 12.000 barrel minyak per hari (Contoh foto sumur tua dari Liputan6.com). Berikut beberapa artikel terkait contoh-contoh lokasi sumur tua minyak bumi, dan juga beberapa informasi lainnya:

Saya sebenarnya sedang “penasaran” dan ingin masukan serta pengalaman dari siapa saja, kalau-kalau ada insinyur Indonesia yang telah “berkecimpung” di bisnis ini (selain di Duri steam flood). Setahu saya, untuk mengambil minyak dari sumur tua banyak sekali cara yang dapat dilakukan seperti Gas lift, atau water injection, dan juga menggunakan steam flooding seperti di ladang Duri milik Chevron Pacific Indonesia (Dulu Caltex). Tetapi juga banyak sekali teknologi lain seperti menggunakan polymer dll. Saya terus terang sedang memikirkan kemungkinan uap (steam) panas bumi yang tersedia di berbagai daerah, di-injeksikan untuk mengangkat minyak bumi dari sumur tua. Mohon masukan dari teman-teman yang pernah berbisnis di bidang ini. Terima kasih sebelumnya atas informasinya. Salam Hengki Beberapa tanggapan:


From: itb77@bhaktiganesha.or.id On Behalf Of Lisminto Sent: Tuesday, April 22, 2008 10:24 AM Subject: [itb77] Re: Beberapa solusi untuk sumur tua Urun rembuk sedikit tentang sumur tua. 1. Untuk lapangan selain duri, yang minyaknya tergolong minyak ringan- teknik steam injection tidak perlu. 2. Untuk, sumur-sumur demikian ada dua golongan solusi : a. Kimia and b. pemboran horizontal 3. Untuk cara kimia ada beberapa cara, dari yg ringan-menuju berat adalah sbb. 3.1. Work over dengan fluida yang inhibitive. Dengan cara ini, sumur dibersihkan dari "dirt", dan kemudian di"rendam" dengan fluida yang sesuai dengan kondisi formasi. Dengan teknik ini diharapakan permeabilitas reservoir akan naik sehingga mampu mengalirkan minyak lebih banyak. Saya bila didukung oleh lab yang baik (lemigas atau ITB), cukup familiar dg teknik ini. 3.2. Acidizing Setelah di "work over, dilanjutkan dengan injeksi "campuran asam-asam tertentu" yg disesuaikan dengan kondisi formasi. Beberapa asam yg lazim dipakai antara lain: HCL, HNO3, Formiat dll. Tujuan dari teknik ini adalah memperbesar permeabilitas dengan melarutkan zat-zat organik dan deaktifasi "calay". Karena Acid diinjeksi dengan tekanan cukup besar, radius perbaikan yang dicapai lebih tinggi dari teknik pertama. Sy juga sedikit mengerti teknik ini dg kerjasama beberapa fihak. 3.3. Penyumbatan dg polymer : Pada sumur tua, biasanya water cut nya besar. Teknik ini dipergunakan untuk menyumbat bagian bawah reservoir, sehingga menghambat Flow air. Teknik pernah dicoba dilapangan Minas, hasilnya saya belum tahu. Teman-teman CPI mungkin bisa membantu. 3.4. Water Flood Teknik ini dilakukan dengan memompakan air (air + surfactant) untuk mendorong lebih banyak minyak ke sumur. Surfactant, diharapkan untuk mengubah "wetability" formasi menjadi lebih suka air. Dengan perubahan tersebut, akan lebih vbanyak crude oil yang bisa direcover. CPI minas sekarang melakukan proyek ini dengan biaya besar, seluruh surfactant masih diimpor. Salah satu surfactant yang cukup baik adalah, Biodiesel yg disulfonasi menjadi : Methyl Ester Sulfonat. Keberhasilan teknik ini amat tergantung "sub surface mapping" lapangan dan jarak antar sumur yang tidak terlalu jauh. Teman-teman CPI mungkin bisa sharing dg lebih baik. 4. Pemboran Horizontal or Lateral Drilling. Sumur-sumur tua umumnya adalah sumur vertical.Misalnya terdapat Reservor sepanjang 1 Meter, maka surface area pengurasan hanya sebatas itu. Prestasi pengeboran terbaik didunia dipegang oleh CNOC. Mereka mampu mengebor reseservoir setebal 0.7 Meter, sepanjang 1 km. Dengan cara ini, surface area pengurasan bisa ditingkatkan menjadi 1000 kali. Terima kasih, mudah-2 an berguna Salam Bangkit Lisminto


From: indonesia@nextbetter.net On Behalf Of nyoman Sent: Tuesday, April 22, 2008 4:32 PM Subject: [indonesia] Re: Fw: [IA-ITB] Solusi 'sumur tua' untuk minyak bumi US $ 117 per barrel ? Salam EOR dengan Mikroba (MEOR) adalah salah satu kegiatan penelitian dan pengembangan yang kami lakukan di SITH dan PIH ITB. Hanya kami belum pernah sampai ke skala lapangan. Barangkali kalau ada dana untuk mencoba isolat mikroba yang kita punya dalam rangka meningkatkan perolehan minyak, kami dengan senang hati bisa lebih menggalakkan penelitian ini. Terima kasih Wassalam


From: indonesia@nextbetter.net On Behalf Of Teuku Reiza Yuanda Sent: Tuesday, April 22, 2008 11:03 PM Subject: [indonesia] Re: Fw: [IA-ITB] Solusi 'sumur tua' untuk minyak bumi --> recovery Ahh Mas Basuki bisa aja becandanya, bagaimana caranya mengkerek suatu sumur minyak tua dengan kedalaman 2000 meter di bawah tanah dan mampu dilakukan pemisahan fraksi minyak sesuai keinginan sebelum dibawa ke oil refinery?? Nah, setahu saya tahapan pengembangan dan produksi reservoir minyak melibatkan 3 fase utama recovery (tanpa adanya kerek-mengerek), yaitu: primer, sekunder dan tersier. Pada recovery primer, tekanan alam pada reservoar dan gravitasi membuat minyak bermigrasi ke arah well-bore, yang dikombinasikan dengan teknik pemompaan buatan yang akan membawa minyak ke permukaan. Hanya 10% dari cadangan minyak di reservoar yang dapat dihasilkan pada recovery primer. Recovery sekunder melibatkan proses penginjeksian air dan gas untuk “menggantikan” minyak di reservoar, dan membuat minyak tersebut bermigrasi ke arah well-bore. Sekitar 20-40% cadangan minyak di reservoar dapat dihasilkan pada recovery sekunder. Seiring dengan perkembangan teknologi, atau yang biasa disebut EOR (Enhanced Oil Recovery), suatu teknik yang menjanjikan recovery antara 30 s.d. 70% dari cadangan minyak di reservoir awal. Terdapat beberapa kategori EOR, antara lain: + Thermal recovery: Melibatkan sumber panas sebagai recovery, dengan contoh injeksi uap panas untuk menurunkan viskositas. + Injeksi kimia Melibatkan penggunaan polimer to meningkatkan efektivitas “waterfloods”, atau menggunakan surfaktan mirip deterjen untuk merendahkan tekanan permukaan yang terkadang menghambat minyak bermigrasi di dalam reservoar. + MEOR Melibatkan penggunaan isolat mikroba seperti Mas Nyoman (SITH-ITB) utarakan di posting sebelumnya. + Injeksi gas Melibatkan penggunaan gas, seperti nitrogen maupun karbondioksida yang akan mengekspansi reservoar terinjeksi untuk menekan minyak ke arah well-bore. Khusus untuk injeksi karbondioksida, masih terbatas penggunaannya di negara yang sudah mampu menerapkan teknologi CCS (Amerika Serikat, Uni Eropa bagian barat, dan Skandinavia). CCS (carbon capture and storage), adalah proses pemisahan gas karbondioksida (kombusi) yang dihasilkan oleh industri-industri terkait dan kemudian ditransportasi/diinjeksi ke tempat penyimpannya yang terisolasi dari atmosfer, dalam kedalaman tertentu di darat dan lepas pantai/laut untuk memperkecil kebocoran yang terjadi dalam periode jangka panjang. Gas karbondioksida tersebut sesuai dengan formasi geologi penyimpanannya, dapat digunakan dalam Enhanced Oil and Gas Recovery maupun Enhanced Coal Bed Methane Recovery, selain juga bertujuan untuk menstabilkan emisi gas rumah kaca di atmosfer. Penggunaan gas karbondioksida sebagai EOR (CO2-EOR), dimulai pada awal 1970-an di Texas dan kemudian berkembang pesat di negara2 Skandinavia. Sayangnya, teknologi ini “kurang diminati” di Indonesia, karena biaya yang sangat mahal di awal, terutama berkaitan dengan socio-policy untuk “memaksa” seluruh industri di Indonesia menerapkan proses kombusi namun dengan infrastruktur yang sangat tidak memadai. Terima kasih. - Reiza (TG'00) - Basuki Suhardiman wrote: Sebenarnya sumur sumur tua tersebut tinggal di kerek lagi koq cukup besar dapat nya fraksi nya juga tidak sebesar crude oil, kalau cuma ngambil solar, minyak tanah dan minyak diesel bukan persoalan sulit kalau mau ngambil fraksi bensin, itu yang rada' butuh proses (cracking) jadi belum sampai ke urusan mikroba bos :-)


From: indonesia@nextbetter.net On Behalf Of Imam Purnama Sent: Wednesday, April 23, 2008 8:43 AM Subject: [indonesia] Re: Fw: [IA-ITB] Solusi 'sumur tua' untuk minyak bumi US $ 117 per barrel ? Kalo hanya soal ngangkat cairan dari sumur, ya memang dikerek alias dipompa dengan tenaga orang itu pak solusi murahnya. Kalo mau yang agak mekanis ya pake pompa yang mengangguk-angguk itu. Minggu lalu sempat ke Bukaka nanya harga pompa angguk2 ini. Ternyata ada lonjakan harga struktur bajanya sampai 3 kali lipat dibanding Oktober tahun lalu. Jadi kalo pakai jenis ini mungkin tidak terlalu menjanjikan marginnya. Mungkin bisa dicoba pakai pompa submersible untuk aplikasi sumur dangkal (sekitar 300-500m) yang digerakkan dengan motor sumur air Franklin dengan o-ring HSN atau Viton yang bisa tahan hidrokarbon. Kalo impeler dan difusernya dari plastik, tidak tahan lama. Sejak 5 tahun lalu ada teman yang jual pompa kecil begini dengan impeler dan difuser dari Ni-resist (baja dengan Nikel) untuk sumur2 CBM di Wyoming. Laris manis. Dan run lifenya bisa 3 kali lebih lama dari yang plastik. Kalau di sumur minyak, problemnya ada di power kabel yang harus bisa tahan kalo dicelup/dibenamkan di hidrokarbon. Ini jadi agak mahal karena harus punya insulasi yang tahan minyak, biasanya pakai PPEO atau EPDM. Yang terakhir agak lebih mahal. Pompa yang kedua tersebut berkisar di $10000 - $15000 per set termasuk kabel dan controller untuk laju produksi sekitar 150-400 barel per hari. Harga tersebut perlu dikonfirmasi lagi kayaknya. Biasanya motornya sekitar 5 - 7.5HP. Jadi perlu listrik yang lumayan. Harus ditimbang2 dengan kebutuhan solar untuk gensetnya. Kalau memang masih bisa dapet sekitar 5% oil cut masih cukup layak kali ya. Apalagi kalau sekitar 10-20 sumur barengan. imam

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=77