Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : ICT
Ingin berbisnis di Industri ICT - Ride the Wimax revolution
Kamis, 24 April 08 - by : Triharyo (Hengki)

Untitled document

Sewaktu kampanye Ketua IA-ITB, saya sempat ketemu banyak sekali alumni Teknik informatika ITB yang menerangkan tentang akan terjadinya “Revolusi Wimax” di Indonesia. Oleh sebab itu, sejak November 2007 saya mencoba mempelajari & mengikuti perkembangan teknologi ini dan kemungkinan penerapannya di perusahaan kami.

Apakah itu Wimax ?

Wimax adalah jaringan internet tanpa kabel (wireless), dengan kecepatan seperti memakai kabel fiber optic (70 Mbps), tapi menjangkau radius 50 km. Jadi Wimax adalah ibaratnya Wifi (hot spot) dengan broadband access untuk radius 1 kota (bukan 1 Starbuck café). Lihat ilustrasi di gambar – Wimax warna biru dan Wifi warna abu-abu. Silahkan baca Q & A tentang Wimax ini di Wimax forum, di majalah SDA atau download penjelasan Intel tentang teknologi Wimax ini.

Revolusi apa yang akan terjadi di Indonesia ?

Bila Wimax diterapkan di Indonesia maka internet kecepatan tinggi akan tersedia dimana-mana. Transfer video, pengiriman gambar densitas tinggi dan juga files ukuran besar akan terjadi dengan sangat mudah. Karena PT Rekayasa Industri merancang sebuah pabrik industri dengan menggunakan perangkat lunak 3-Dimensi (high density graphics files), maka kecepatan transfer gambar dalam ukuran besar dari kantor pusat ke lokasi-lokasi proyek menjadi sangat penting. Menurut sebuah sumber, bisnis Wimax di seluruh dunia dalam 5 tahun mendatang akan mencapai US $ 23 milyard.

Apa upaya dan langkah pemerintah ?

Salah satu tokoh nasionalis sejati yang ingin mendorong terciptanya industri telekomunikasi nasional, khususnya untuk memproduksi perangkat Wimax, adalah Dirjen Postel yang bernama Basuki Yusuf Iskandar (foto dari Detiknet). Atas desakan banyak perusahaan-perusahaan besar, ia menunda pemberian izin frekuensi Wimax, sampai industri lokal mampu membuat peralatannya secara mandiri. Basuki merasa sedih karena dari belanja telekomunikasi sebesar Rp 40 triliun per tahun, produk lokal hanya Rp 1,2 s/d Rp 8,4 Milyard.

Indonesia betul-betul diserbu produk import. Itulah sebabnya Basuki menyediakan dana Rp 18 milyard untuk riset Wimax, dengan mengerahkan berbagai institusi seperti untuk pengembangan chipset oleh ITB, pengembangan terminal akhir oleh BPPT, radio frekuensi baseband oleh LIPI, antena oleh UI, dan sistem operasinya oleh ITB. Setiap kelompok pengembangan kira-kira terdiri dari empat puluh peneliti. Selain itu BPPT & Depkominfo, saat ini juga sedang kembangkan penerapan Wimax untuk seluruh kantor pemerintah. Perusahaan-perusahaan lokal juga mulai “terjangkit wabah” memproduksi perangkat Wimax, seperti PT Solusindo Kreasi Pratama.

Setelah pemerintah memberikan izin frekwensi Wimax, apa bisnis yang akan tercipta & berapa besar prospeknya ?

Karena serbuan berbagai pihak, dan walaupun industri nasional belum siap, akhirnya Dirjen Postel mengeluarkan aturan teknis penerapan Wimax. Dengan penerapan ini akan berkembang bisnis-bisnis berikut :

  • Bisnis pemasangan perangkat Wimax pada existing BTS tower. Telkomsel di tahun 2007 mempunyai 21.000 BTS (dengan 1500 3-G enabled). Sedangkan Indosat mempunyai sekitar 8.000 BTS. Harga 1(satu) Wimax base station sekitar US $ 15.000. Jika 2.000 BTS dipasang perangkat Wimax maka prospek bisnis ini sekitar US $ 30 juta
  • Bisnis memproduksi perangkat CPE (Customer Premises Equipment) juga akan tumbuh. CPE adalah ibaratnya modem untuk Wimax. Harganya sekitar US $ 100 s/d US $ 200 per CPE. Jika 10 % pemakai internet Indonesia, yang totalnya 25 juta orang, pindah ke Wimax maka akan ada 2.5 juta pelanggan. Ini merupakan prospek bisnis US $ 250 juta s/d US $ 500 juta. Sebuah angka yang cukup besar.
  • Selain itu akan tumbuh bisnis content jenis baru seperti e-learning, movies on demand, set-up teleconferences facilities untuk korporasi, organisasi masa ataupun politik. Juga tentunya akan berkembang perusahaan jasa internet provider dengan kecepatan sangat tinggi yang akan membangkrutkan internet provider yang menerapkan teknologi kuno.

Demikian beberapa informasi “gegap gempita” yang saya tahu. Walaupun saya tahu bahwa CEO Vodaphone masih bilang - Wimax terlalu pagi. Tapi dari pengalaman saya, siapa yang paling awal dan pandai mengantisipasi pasar dengan menerapkan teknologi inovatif, biasanya akan menikmati keunggulan. Salam Hengki Nb: Pak Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar adalah teman kuliah Djasli djamarus sewaktu di USA. Saya sudah membuktikan kecanggihan Djasli untuk bertemu pak Dirjen.

Beberapa tanggapan (dari milis itb77):


Wimax :

1. Wimax adalal lokal akses (seperti kabel telepon dari rumah ke sentral telepon). Antar Node membutuhkan high speed data seperti microwave atau Fibre optik. Kecepatan microwave ada yang sapai 800 Mbps.

2. Jarak Wimax 50 km. Hal ini terjadi pada lokasi yang line off site, menggunakan MIMO dan daya yang besar. Bila digunakan untuk daerah perumahan maka jaraknya turun menjadi 3 Km. Khusus untuk operasional secara komersial maka jaraknya diturunkan lagi menjadi 2 km, dengan alasan kapsitas node (BTS) hanya 1,024 pemakai secara bersamaan. Kapsitas ini tetap, maka bila coveragenya makin luas maka jumlah pelanggannya akan makin sedikit.

3. Kecepatan 70 Mbps. Kecepatan 70 Mbps bergantung pada Band width (BW) yang disediakan dan sesuai aturan pemerintah. Untuk BW 5 Mhz (Mega Hertz) maka kecepatannya sekitar 13 Mbps (Mega Bit per second). Ada isue pemerintah akan menyediakan BW hanya 3.5 Mhz. Setiap operator akan memeproleh minimal 3 x BW yang disediakan pemerintah.

4. Teknologi. Teknologi WImax menggunakan sistem OFDMA (SOFDMA), Data yang besar dikirim dengan penjumlahan transmisi data yang kecil-kecil. Bila pembawa data yang kecil tersebut mengalami gangguan (interferensi dsb) maka pembawa data tersebut dimatikan. Sistem ini yang membuat WImax andal. Ada yang menyebut WImax adalah ADSL on sky. Selain itu modulasi Wimax berubah sesuai penerima di terminal user. Jadi untuk yang jarak dekat bisa mempunyai modulasi 64 QAM dan jarak jauh menjadi QPSK. Pengaturan ini secara otomatis.

5. Biaya. Biaya per sector adalah +/- US$ 20,000. Bila satu lokasi ada 3 sektor ( 3 frekuensi) maka membutuhkan biaya +/- US$ 60,000. Biaya belum termasuk UPS, sewa BTS dsb. Harga terminal remote (CPE) +/- US$ 200 - 400. Biaya tersebut belum termasuk biaya Router, Server, Billing dll

6. Mengapa WImax ?? Pada prinsipnya Wimax adalah berdasarkan protokol IP. Protokol ini mudah, murah, tetapi kurang efisien. Beberapa usaha coba diperbaiki pada protokol ini seperti Header compression, locla spoofing, caching, accelerator dsb. Karena bisa digunakan untuk Video, Data dan Voice maka katanya dapat mengancam GSM dan 3.5 G. Katanya sih ijin tidak dikeluarkan karena mengancam investasi GSM yang belum balik ????? Selain itu katanya dimasa datang semua notebook akan dilengkapi dengan Chip Wimax (Rosadale 2 ????) Semua HP dilengkapi dengan chip Wimax dimana biaya penggunaannya jauh lebih murah dari GSM saat ini. Katanya sih harganya seharga berlanggan internet saat ini dimana bayar Rp 500,000/bulan bisa ngomong sepuasnya ke seluruh dunia ???

7. Pabrikasi. Inti dari produk Wimax adalah Chipnya itu lhooo. Dan rasanya chipnya tidak dibuat di Indonesia. Selain itu banyak komponen yang lainnya. Saya dengar katanya sudah ada pabriknya di Bandung. Aku ingin lihat juga.

8. Strategi Pemerintah. Untuk mendorong industri WImax di Indonesia maka pemerintah akan menentukan di frekuensi 2.3 Ghz ???. Frekuensi ini sangat jarang didunia sehingga peralatannya hanya dapat diproduksi di Indoensia. Karena unik maka harga mahal sehingga tidak bisa menjangkaui masarakat. Wassalam, Agus R. - EL77


From: anto sarosa

Date: Saturday, April 26, 2008, 5:28 PM

Saya sangat setuju sekali dg ide Hengky tentang implementasi WiMax, tapi saya ada sedikit pengalaman dan pandangan sbb:

- WiMax bukan pengganti 3G (dg HSDPA-nya), tapi saling meng-komplemen. Tidak ada single teknologi yg bisa memberikan/memuaskan semua kebutuhan.

- WiMax sangat cocok dg kondisi Indonesia yg penuh dg pulau2 dan terain pedesaannya. - WimAx termasuk teknologi baru yg di negara2 Eropa atau Amrika bakalan kurang dapat berkembang karena keunggulan Fiber (dg teknologi GPON atau Active Ethernet) lebih mempunyai keunggulan dalam memberikan pita-lebar-nya (bandwidth).

- Setuju dg pendapat Anis, jangan melakukan penelitian dari awal (dari micro chip) tapi lebih baik lompat di-tengah2. Takut ditengah jalan penelitian, orang lain masuk dan jual alatnya yg siap pakai. - Dalam dunia WiMax persaingan cukup ketat, Motorola, Alcatel-Lucent, ECI, Huawei, dsb. Dan Huawei selalu mempunyai keunggulan dg harganya. Perlu dicermati ancaman perusahaan Cina ini kalau masuk ke Indonesia.

- Kalau kita akan membuat alat sendiri, perlu persiapan nafas panjang dan perlu adanya komitmen dari perusahaan dalam negeri utk membeli/mendukung program ini. Salah2 orang lain masuk kerumah kita, dan nafas program terhenti. Harus sustainable, jangan buat alat satu dan sukses, kemudian di jual dan tidak ada pengembangan selanjutnya (artinya maintenance, improvement dan development harus menjadi komitment).

- Teknologi WiMax adalah teknologi sharing bandwidth, dalam satu link, jika semakin banyak yg memakai semakin kecil bandwidth yg teralokasi per user-nya. - Bandwidth (BW) yg bisa di-supply tergantung juga kapasitas bandwidth yg ada di Aggregation Network dan juga Core Network. Artinya, meskipun WiMax, sebagai jaringan akses, dapat memberikan BW lebar tetapi kalau di core network-nya nggak bisa nampung, juga akan terjadi bottleneck. Seperti jalan toll yg diujung exitnya macet.

- Untuk traffic internet (dengan bursty traffic), WiMax akan cukup memadai tetapi untuk IPTV perlu perhitungan yg lebih matang. Dalam hal ini (IPTV), 3G dan 4G lebih unggul karena tidak menggunakan sharing bandwidth. Strategy

- Mulai penelitian dan merealisasikan peralatan CPE dari sekarang (peluang bisnis $250 jutaan). Chipset-nya dibeli saja dari pembuat BTS. Lebih mudah, lebih simple dan lebih cepat merealisasikan.

- Sambil melakukan penelitian dari awal (micro chip) yg akan digunakan utk masa mendatang (artinya harus advance dibanding teknologi yg ada), peralatan BTS dibeli dari supplier yg handal tapi CPE tetap dari dalam negeri (harus ada perjanjian inter-operability dg BTS tapi kalau Chipset dibeli dari perusahaan BTS yg sama, masalah interoperability dapat minimal). Tujuannya, kita harus mempunyai BTS sendiri dalam jangka waktu 1 - 2 tahun kedepan dan mengeliminasi ketergantungan dan menutup bahaya masuknya CPE dari luar (porsi besar bisnis ada di CPE).

- Content harus dari dalam negeri karena ini adalah brainware dan lebih dapat memahami kebutuhan pemakai. Bisa diisi oleh Pemerintah atau BUMN untuk tujuan public service dan oleh swasta dg nilai tambah yg lebih besar untuk tujuan komersial dan bisnis. Itu dulu rekan2 semoga bermanfaat.

Salam, Anto


From: Triharyo (Hengki)

Date: Sunday, April 27, 2008, 5:44 AM

Ayong (yang Agus Rusmantoro), Anis dan rekans Supaya semangat Anis tidak mengendor, berikut ini sebuah idea bisnis (business proposition). Pada akhir tahun 2007 yang lalu saya bertemu dengan Dirjen Postel (Pak Basuki) atas prakarsa Djasli. Tujuan saya adalah mencari izin untuk memasang Wimax tower di lokasi proyek kami dan meng-connectnya ke seluler operator, misal Telkomsel. Terus terang Idea teknisnya masih agak kabur. Tujuan kami adalah mengganti V-sat yang selama ini kami sewa bulanan dari CSM dengan Wimax tower agar transfer data bisa lebih cepat kami lakukan dari home office ke lokasi proyek yang relatif remote.

Sebagaimana diketahui, proyek-proyek kami biasanya di lokasi-lokasi sumur gas dan minyak yang jauh dari keramaian dan biasanya belum ada jangkauan seluler apalagi kabel telpon. Selama ini kami menyewa V-sat ke perusahaan penyewa jasa V-sat seperti CSM dengan biaya sekitar US $ 4.000 s/d US $ 5.000/bulan, untuk komunikasi telpon dan internet di lokasi-lokasi proyek kami. Jadi jika masa konstruksi proyek sekitar 12 bulan, maka dana yang kami keluarkan sekitar US $ 60.000 untuk setiap lokasi proyek.

Setelah proyek selesai, dana ini praktis hilang tanpa bekas. Salah satu idea kami adalah membangun Wimax tower yang kami perkirakan biayanya sekitar US $ 30.000 total. Dengan nilai investasi ini, kami bisa mendapatkan broadband connection untuk transfer files ukuran besar dengan cepat, dan juga setelah proyek selesai kami mempunyai “investasi gratis” jaringan Wimax di lokasi proyek. Jaringan Wimax ini bisa diteruskan sebagai modal awal untuk jasa layanan Wimax bagi operator pabrik dan juga bagi para penghuni desa disekitar proyek. Sehingga setelah kami pulang, akan terjadi “pulau” high speed internet connection disekitar proyek kami yang bisa menjadi sumber pemasukan uang bagi pemilik & operatornya.

Pulau Wimax ini juga bisa melengkapi program USO yang diminta DPR tapi belum bisa terlaksana oleh Pemerintah. Waktu itu pak Basuki minta ke saya dan Djasli untuk mendetailkan proposalnya. Terus awal tahun 2008, saya ke Bandung ketemu Azis sang Dirut Inti dan juga beberapa rekan-rekan yang mulai memasuki bisnis Wimax untuk menyampaikan niat saya ini, lalu hampir semua serempak bilang..”izin wimax belum ada, Heng”.

Nah, sekarang izin Wimax sudah keluar di 2.3 GHZ. Jadi seharusnya kita sudah bisa lebih maju lagi untuk mendetailkan proposal yang diminta pak Dirjen. Saya mengundang rekan-rekan yang ahli tentang bisnis Wimax, dengan problem statement diatas, untuk membahasnya secara detail. Untuk team pelaksananya, saya telah bertemu dengan banyak alumni muda yang sangat semangat untuk mengembangkan bisnis Wimax ini.

Jadi ideanya adalah menggabungkan para senior player di bidang IT & Telekomunikasi (yang mempunyai jejaring kenalan yang kuat) dengan pelaksana teknis dilapangan yang gesit dan mengerti detail tentang teknologi Wimax. Dari pengalaman saya mengembangkan 100 start-up companies, inilah resep suksesnya. Cita-cita saya, selain mengembangkan bisnis telkom di lokasi remote (pelosok pedesaan), kita juga akan membantu masyarakat pedesaan disekitar lokasi pabrik dengan high speed internet access. Siapa tahu dari pelosok pedesaan kelak ada murid yang mampu mendownload dan mengikuti kuliah di MIT, dari kampung halaman mereka, sehingga dengan autodidak bisa menjadi super engineer Indonesia. Amien

Salam
Hengki


From: Triharyo

Sent: Monday, April 28, 2008 9:51 PM

Anto, Terima kasih sekali atas seluruh masukannya. Ketiga e-mail Anto sudah disambung dan dimasukan sebagai tanggapan dalam berita “Wimax” yang dimuat di www.triharyo.com. Mudah-mudahan dibaca oleh banyak orang, terutama generasi muda Indonesia.

Kapan Anto pulang dan membangun telekomunikasi di pedesaan. I think it is time to build telecomunication network for your country. Saat ini ada program pemerintah sekitar US $ 100 juta untuk menghubungkan 38.000 pedesaan di Indonesia memakai Wireless atau Wimax dengan nama USO (Universal Service Obligation). Salam Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=78