Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Mengenang Ibnu Sutowo - Tanpa jasa beliau saya tidak mungkin kuliah di Amerika Serikat
Kamis, 25 Februari 10 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Di akhir tahun 1981 sewaktu lulus dari jurusan Teknik Kimia ITB, saya sangat ingin untuk melanjutkan kuliah di Amerika serikat, khususnya mengambil spesialisasi dalam "Membuat perangkat lunak untuk merancang pabrik dengan menggunakan Personal Computer"(Process simulation for Plant design). Perlu saya ingatkan bahwa IBM Personal Computer (PC), baru saja diluncurkan pada pertengahan tahun 1981. Visualisasi saya, PC akan menjadi murah dan akan mampu untuk dimiliki oleh setiap insinyur Indonesia. Di tahun 1970-an, hanya perusahaan-perusahaan raksasa yang memiliki computer dan mampu merancang pabrik. Jadi jika PC tersedia dengan murah, dan perangkat lunak untuk merancang pabriknya sudah kita kuasai, maka insinyur-insinyur Indonesia pasti akan mampu merancang pabrik secara mandiri. Begitu pikiran saya saat itu.

Itu cita-cita saya di tahun 1981. Ternyata merealisasikan cita-cita ini menghabiskan puluhan tahun dari hidup saya.... tapi itu sebuah cerita terpisah.

Kembali ke cita-cita melanjutkan kuliah di Amerika Serikat. Tantangan saya, adalah bagaimana bisa memperoleh dana untuk melanjutkan kuliah di Amerika. Karena walaupun keluarga kami Alhamdulilah berkecukupan, namun orang tua kami tidak mampu untuk membiayai uang kuliah dan biaya hidup saya di Amerika. Di kala itu, biaya yang harus dikeluarkan sekitar US $ 10.000 s/d 15.000 per tahun untuk uang kuliah, dan juga biaya hidup. Dengan niat yang sangat menggebu-gebu, maka saya mulai mencari-cari berbagai sumber bea siswa di Amerika maupun di Indonesia. Satu per satu lembaga bantuan, saya kirimi surat  untuk memohon bea siswa. Saat itu belum ada e-mail, jadi relatif cukup banyak uang saku, yang saya belanjakan untuk membeli perangko. Karena kita harus mengirim banyak sekali surat untuk urusan mendaftar sekolah, mengikuti berbagai international tests (TOEFL, GRE general, GRE engineering yang kala itu belum online dan belum ada credit card seperti sekarang) serta tentunya mengirim surat-surat untuk mencari bea siswa. Saat itu, surat harus ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan harga perangko.

Melalui kakak saya, terbetik berita bahwa ada sebuah institusi di New York yang bernama "Permina Foundation". Saya akhirnya mengetahui bahwa Permina Foundation adalah sebuah hasil pemikiran Pak Ibnu Sutowo, untuk membantu putra-putri Indonesia memperoleh pendidikan advanced engineering di Amerika Serikat. Sebagaimana diketahui, PT Permina, dibentuk pada tahun 1957, dan langsung harus mengelola aset kilang Pangkalan Brandan yang terbengkalai ditinggalkan oleh Belanda. Lalu di bulan Januari 1966,.Pak Ibnu kemudian secara berani mengakuisisi seluruh aset milik Shell di Indonesia seperti kilang Balikpapan, kilang Musi beserta wilayah operasi di Sumatra Selatan, Kalimantan dan Jawa. Akuisisi tersebut dibeli dengan harga US $ 110 juta, disaat Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Akuisisi Shell oleh Ibnu Sutowo ini akhirnya dilunasi dalam 5 tahun secara tepat waktu. Singkat kata, Ibnu Sutowo sangat sadar bahwa permasalahan utama PT Permina dimasa awal berdirinya, terletak pada sumber daya manusianya. Itulah awal pemikiran beliau untuk mendirikan "Permina Foundation".

Sebagaimana diketahui di tangan pak Ibnu Sutowo-lah, PT Permina akhirnya menjadi PN Pertamina dan di masa puncaknya mampu memproduksi minyak bumi dari 0 sampai 1,7 juta barrel minyak bumi per hari. Produksi 1,7 juta barrel per hari adalah jumlah produksi minyak bumi kira-kira 2(dua) kali lipat jumlah produksi seluruh perusahaan asing dan PT Pertamina (Persero) hari ini di Indonesia....... ini juga sebuah cerita lain yang cukup menarik.

Walaupun PT Permina sudah berubah menjadi PN Pertamina dan kemudian PT Pertamina, namun nama Permina Foundation masih tetap digunakan sebagai sebuah institusi pemberi bea siswa bagi putra-putri Indonesia, khususnya bagi mereka yang akan mengambil program paska sarjana (bukan S-1) di bidang engineering. Namun seleksi untuk memperoleh bea siswa ini sangatlah ketat. Calon penerima bea siswa harus sudah diterima dulu di salah satu Universitas yang cukup baik (terakreditasi) di Amerika. Selain itu, sang pemohon harus membuktikan bahwa ia termasuk dalam 3 (tiga) rangking tertinggi di angkatannya, lulusan dari lembaga pendidikan S-1 terkemuka di Indonesia. Ditambah lagi, sang pemohon juga telah mengikuti TOEFL, dan GRE Engineering dengan perolehan nilai yang relatif tinggi. Tahapan terakhirnya, mengikuti ujian tertulis dan melakukan wawacara dengan sang pengelola dana. Saya ingat beberapa pemuda-pemudi diuji oleh Mr JW Caulson di Hotel Borobudur, pada pertengahan tahun 1982. Rasanya Hotel Borobudur saat itu baru saja selesai dibangun. Namun saya tidak bisa menikmati keindahan hotel baru tersebut, karena pikiran saya cukup stress menghadapi ujian tertulis dan wawancara seleksi oleh Mr Caulson dan team.

Singkat kata setelah melewati berbagai test, saya memperoleh bea siswa sebesar US $ 675 per bulan, diluar biaya sekolah yang dibayarkan langsung oleh Permina Foundation ke sekolah saya, yaitu University of Arizona, Chemical Engineering Deparment. Saya juga bersyukur bawah rata-rata nilai kuliah (Grade Point Average - GPA) saya bisa diatas 3.5 (antara A dan B). Sehingga saya layak untuk terus memperoleh bea siswa. Karena jika GPA saya dibawah 3,5, pada ujian mid semester, maka Permina Foundation langsung mengirimkan warning akan men-stop pengiriman dana.pada semester berikutnya (jika rata-rata nilai akhir semester dibawah 3,5). Jadi setiap akhir semester,  kita cukup dibuat tegang karena bak pertarungan hidup dan mati. Nilai jelek berarti pulang ke Indonesia.

Alhamdulilah saya mampu menyelesaikan program Master of  Chemical engineering pada tahun 1984 di University of Arizona dengan terus menerus memperoleh bea siswa dari Permina Foundation. Malah di akhir kuliah saya, masih tersisa uang bea siswa (uang buku, uang riset dan uang deposit apartment) yang cukup lumayan jumlahnya untuk saya belikan komputer PC baru. Komputer beserta printer yang telah berjasa menyusun thesis saya, kemudian saya bawa pulang ke Indonesia. Komputer PC yang saya bawa ini nantinya menjadi "komputer PC perdana" di PT Rekayasa Industri pada tahun 1984.

Nah, sekembali dari Amerika Serikat di pertengahan tahun 1984, saya bersama orang tua menghadap pak Ibnu Sutowo di kediaman beliau. Kebetulan eyang putri kami adalah teman sekelas pak Ibnu sutowo sewaktu di SD. Maksud orang tua saya tentunya adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada pak Ibnu Sutowo, karena berkat bea siswa yang di-inisiasi oleh beliau, maka saya bisa menyelesaikan program S-2 di Amerika Serikat. Pak Ibnu sutowo saat itu sudah tidak lagi menjabat Dirut Pertamina. Setelah banyak bercerita tentang masa muda beliau dengan eyang putri kami. ayah saya kemudian bertanya kepada pak Ibnu, apakah saya harus melakukan ikatan dinas di Pertamina untuk membayar kembali bea siswa Permina Foundation. Lalu pak Ibnu kira-kira menjawab seperti ini, "Permina foundation itu tidak ada ikatan dinasnya, yang terpenting gunakan ilmunya untuk membangun Indonesia".

Ternyata selaman puluhan tahun berkarya, saya mendapat kesempatan untuk membangun kilang-kilang baru bagi PT Pertamina, meningkatkan kapasitas pabrik dan juga menambah berbagai fasilitas di hampir seluruh kilang-kilang PT Pertamina. Mungkin itulah maksud dan cita-cita pak Ibnu 50 tahun yang lalu sewaktu mendirikan Permina Foundation. Terima kasih pak Ibnu atas inisiatif  mendirikan Permina Foundation. Sehingga seorang anak Indonesia seperti saya, bisa memperoleh pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan menggunakan ilmunya untuk membangun bangsa. Semoga Allah SWT membalas seluruh amal baik bapak dan tak lupa saya doakan, semoga pak Ibnu ditempatkan disisi Allah SWT yang paling indah, dan dimaafkan seluruh dosa-dosanya. Amien ya robal alamien.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=225