Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Migas
Komisaris Pertamina dan target produksi 1 juta barrel minyak bumi per hari
Selasa, 11 Mei 10 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Pada tanggal 7 April 2010 sekitar jam 12:00, telpon saya berdering, nama yang tertulis di handphone ”Menteri BUMN”. Rupanya pak Mustafa Abubakar sudah menelpon sebelumnya, namun saya tidak sempat mengangkatnya, karena kebetulan handphone sedang saya ”silent”. Setelah menanyakan bagaimana keadaan saya, beliau kemudian bertanya, ”Pak Hengki, apakah bersedia dicalonkan menjadi Komisaris Pertamina ?”. Tentunya saya langsung mengucapkan terima kasih atas kepercayaan beliau dan menyatakan siap untuk menerima tugas tersebut. Lalu pak Mustafa kemudian meneruskan, ”sebentar, sebentar, ini pak Hatta mau bicara”. Lalu pak Hatta mengambil alih handphone, ”Heng, nama anda akan diusulkan ke Presiden untuk menjadi calon komisaris Pertamina. Tapi pesan saya, tolong disiapkan penggantinya yang baik di PT Rekayasa Industri, ya.... karena itu aset bangsa”. Setelah mengucapkan terima kasih, saya sampaikan ke Pak Hatta bahwa Insya Allah, saya sudah menyiapkan succession plan-nya. ”Ok ya Heng, itu saja dan jaga kesehatan”, kata Pak Hatta mengakhiri pembicaraan.

Namun setelah pembicaraan telpon tersebut, hampir sebulan berlalu dan tidak terdengar kabar berita tentang keputusan Presiden. Dari berbagai narasumber, saya mendapat informasi bahwa nama yang diusulkan ke Presiden rupa-rupanya sangat banyak, yaitu sekitar 20 orang. Jadi secara jujur saya sudah agak lupa dan terus terang tidak terlalu berharap lagi. Disisi lain kebetulan saya juga sedang menggeluti upaya-upaya peningkatan pendapatan PT Rekayasa Industri agar mencapai ”US $ 1 (one) Billion company”.  Sehingga sewaktu pak Mustafa menelpon kembali dan meminta saya ke kantor Kementerian BUMN pada Selasa 4 Mei 2010 jam 14:00, saya masih belum tahu dan bertanya-tanya dalam hati, maksud pertemuannya. Di dalam ruangan kerjanya, rupa-rupanya pak Mustafa ingin menyampaikan secara langsung bahwa Presiden telah menyetujui pencalonan saya.

Dalam pembicaraan kami berdua, disampaikan bahwa Presiden ingin sekali agar Indonesia bisa mencapai produksi minyak bumi 965.000 barrel/hari di bulan Oktober 2010, dengan Pertamina menyumbang sekitar 200.000 barrel/hari. Lalu pak Mustafa bertanya, ”Bagaimana ya caranya supaya Indonesia bisa capai produksi minyak bumi 1 juta barrel tahun depan, pak Hengki. Karena Presiden concern sekali masalah ini”. Lalu sebagaimana layaknya seorang ”typical” insinyur, saya sampaikan peluang-peluangnya antara lain ada di Cepu, dan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Beliau tampak ingin mengejar detailnya, tapi saya menahan diri untuk tidak terlalu rinci, karena beliau seorang Menteri. Saya kemudian mengalihkan topik pembicaraan dengan menyampaikan bahwa saya sangat mengikuti ”sepak terjang” pak Mustafa, sewaktu beliau menjabat Dirut Perum Bulog, khususnya dalam keberaniannya menyetop impor beras. Kemudian saya menambahkan, ”Pak, saya sudah membaca buku bapak, dan saya bisa menangkap semangat dan spirit bapak tentang kemandirian bangsa”. Dengan muka yang tiba-tiba menjadi sangat serius dan penuh penekanan, pak Mustafa langsung berkata, ”bantu bangsa ini !!!,...yang penting nawaitu, .....yang penting nawaitu”. Lalu saya tatap mata beliau dan sampaikan, ”Insya Allah, pak”.

Setelah pertemuan tersebut, keesokan harinya pada Rabu siang hari, saya menerima pesan singkat dari ajudan Menteri BUMN yang berisikan informasi, agar diluangkan waktu untuk pelantikan Dewan Komisaris Pertamina yang akan dilaksanakan hari Kamis 6 Mei 2010. Lalu pada siang atau sore harinya direncanakan akan menemui Bapak Presiden. Karena biasanya pelantikan harus membawa istri, saya kemudian mengambil inisiatif untuk memberi tahu Ella, istri saya, agar bersiap-siap. Sewaktu istri saya tanya jam berapa, saya hanya bilang mungkin pagi atau siang hari, undangan resmi menyusul. Lalu satu-satunya orang lain yang saya beri tahu adalah rekan Djasli. Entah kenapa saya menelpon Djasli, mungkin karena dia sahabat karib. Tapi saya berpesan ke Djasli untuk mohon betul-betul dirahasiakan. Di malam hari, saya baru menerima undangan resminya, dan rupa-rupanya acara pelantikannya dimulai jam 09:30 pagi. Informasi ini sempat membuat panik Ella, yang langsung sibuk mencari salon untuk bisa menyanggul rambutnya di pagi hari.

Pada Kamis pagi hari tanggal 6 Mei 2010, saya dan Ella sempat datang terlalu pagi di kantor Kementerian dan langsung menuju ruang pertemuan di lantai 21. Rupa-rupanya direksi Pertamina dan dewan komisaris yang akan dilantik, karena datang lebih lambat, dialirkan oleh protokol Kementerian BUMN untuk menemui pak Mustafa di lantai 3 terlebih dahulu. Setelah saya diingatkan oleh protokol, saya segera bergegas turun dari lantai 21 ke lantai 3. Sehingga saya dan ibu Anny Ratnawati, Dirjen Anggaran, menjadi anggota Dewan Komisaris yang terakhir masuk ke ruangan rapat pak Menteri BUMN. Sewaktu saya masuk ruangan rapat yang sudah penuh dengan dengan Direksi dan Dewan Komisaris Pertamina, pak Mustofa berkomentar, ”Nah, ini pak Hengki, komisaris yang paling muda”.  Bu Karen langsung menjawab, ”bukan pak, bu Anny yang lebih muda”. Rupanya bu Karen sudah mempelajari secara rinci satu-per-satu tanggal kelahiran anggota Dewan Komisaris yang baru. Di dalam ruangan, pak Mustofa mengulang lagi akan target produksi minyak bumi, yang sedang terus menerus dimonitor Presiden. Hal serupa juga disampaikan lagi oleh pak Mustofa dalam pidatonya pada saat acara pelantikan (Foto dari Detik Finance). Rupa-rupanya mengejar peningkatan produksi minyak bumi, ada terus di benak pemikiran pak Mustofa.

Pada siang harinya sekitar jam 1400, seluruh direksi dan komisaris Pertamina diterima oleh Presiden di Wisma Negara. Sewaktu acara dimulai, pak SBY bertanya, ”Coba angkat tangan siapa yang belum pernah ke Wisma Negara ini ?”. Hampir semua mengangkat tangan, termasuk saya. Pak SBY kemudian menceritakan sejarah Wisma Negara yang dulu digunakan sebagai tempat tinggal para tamu negara di tahun 1960-an, karena kala itu belum ada Hotel di Jakarta. Namun Wisma Negara kemudian sempat terbengkalai dan tidak terawat. Saat ini Wisma Negara sudah dipugar dan kembali operasional untuk menjadi ruang-ruang kerja dan juga untuk berbagai pertemuan para Menteri dan Presiden serta Wakil Presiden. Banyak sekali arahan yang disampaikan oleh Presiden pada sore hari itu, intinya Presiden menginginkan Sektor Migas dan Non Migas harus bersama-sama tumbuh. Presiden meminta Sektor Migas tidak boleh menyusut.  

Tadi pagi Sabtu 8 Mei 2010, seluruh Dewan Komisaris Pertamina menghadap pak Darwin Saleh, Menteri ESDM, di kediaman beliau. Pak Darwin menyampaikan bahwa Presiden telah meneliti dengan hati-hati dan memilih dengan seksama susunan Dewan Komisaris Pertamina yang baru, yaitu ”Seorang mantan menteri BUMN yang mengerti tentang korporasi dan bisnis migas, 2 (dua) orang mantan Sekjen ESDM yang sangat mengerti tentang kebijakan Migas, 2 (dua) orang Dirjen aktif yang terkait ke Pertamina yaitu Dirjen Anggaran dan Dirjen ESDM, seorang Jendral militer dan seorang insinyur praktisi”. Tugas yang diberikan oleh pak Darwin kepada kami adalah kejar produksi minyak bumi untuk capai 1 juta barrel per hari, dorong pemanfaatan panas bumi dan kembangkan kilang untuk peroleh kemandirian bahan bakar minyak. Nampaknya angka target produksi minyak bumi 1 juta barel per hari, sudah menjadi target bersama para pimpinan pemerintahan. Sehingga saat ini, sangat diperlukan seluruh daya dan upaya dari para insinyur Indonesia untuk merealisasikan keinginan dan tantangan para pengemban mandat rakyat.

Demikian sharing saya. Tidak lain saya mohon doa, juga mohon segala masukan dan tentunya bantuan untuk melaksanakan amanah Pemerintah ini. Terima kasih sebelumnya atas dukungan rekan-rekan semua.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=243