Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Kisah cinta Michael dan Suu (bagian pertama)
Minggu, 01 April 12 - by : Triharyo Soesilo

Pada suatu siang tanggal 19 Juli 1947, di pusat kota Rangoon, bertemulah Jendral Aung San dengan para menterinya. Mereka sedang membahas persiapan transisi negeri Birma menjadi sebuah negara yang merdeka, dari jajahan Inggris. Tanpa sepengetahuan para peserta rapat, masuklah segerombolan orang bersenjata lengkap yang kemudian dengan serta merta memberondongkan peluru senapan mesin, membunuh semua yang hadir. Jendral Aung San ditembak kepalanya sampai beberapa kali.

Berita meninggalnya Jendral Aung San, sampai ke kediaman anaknya, si kecil Suu Kyi, melalui tangis para prajurit yang histeris. Para prajurit menyampaikan kepada ibunda dari Suu kyi, bahwa jendral Aung, pimpinan mereka telah terbunuh. Suu Kyi, yang nantinya menggabungkan namanya menjadi Aung San Suu Kyi, saat itu masih baru berumur 2(dua) tahun. Ia masih belum bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi dari tangis pilu ibunya, ia menyadari bahwa sebuah tragedi sedang terjadi. Tragedi yang nantinya akan melejitkan nama Aung San Suu Kyi, menjadi suar harapan bagi rakyat sebuah negara, yang sedang tertekan oleh kekuasaan yang menggunakan cara-cara kekerasan.

Namun dibalik sebuah tragedi yang sangat tragis ini, tersimpanlah sebuah kisah cinta yang sangat mengagumkan. Inilah kisah cinta antara Suu Kyi dan Michael Aris.

Michael dan Suu Kyi sangat bertolak belakang, baik dari sisi penampilan maupun juga sifat-sifatnya (lihat foto). Mereka mulai jatuh cinta saat Suu Kyi sedang mengambil kuliah di Oxford pada tahun 1964. Setelah lama berpacaran, lamaran Michael akhirnya diterima oleh Suu Kyi dengan 1(satu) syarat, bahwa bila rakyat Birma memerlukan, ia harus pulang ke negerinya. Pasangan ini akhirnya menikah pada tahun 1972 dan Suu Kyi-pun kemudian dengan setia menjadi seorang ibu rumah tangga.  Selama hampir 16 tahun, Suu kyi terus memasak, menyeterika baju, dan membesarkan anak sebagaimana layaknya seorang istri dan ibu rumah tangga biasa, sampai adanya sebuah telpon di malam hari. Pada tahun 1988, Suu Kyi menerima kabar bahwa ibunya terkena stroke dan sedang dirawat di rumah sakit.

Suu Kyi segera bergegas pulang ke Rangoon, untuk bisa merawat ibunya di Rumah Sakit. Di sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Suu Kyi melihat banyak sekali demonstrasi mahasiswa menentang pemerintahan Jendral Ne Win. Mungkin karena memang sudah takdir, rupanya Rumah Sakit tempat ibunya dirawat adalah tempat dimana para mahasiswa yang terkena tembakan, sedang diobati luka-lukanya. Dengan sigap, Suu Kyi bahkan sempat menolong para mahasiswa yang tertembak, sehingga bajunyapun sempat penuh dengan lumuran darah. Dengan mata kepalanya, ia melihat sendiri seorang mahasiswa ditembak dalam jarak dekat di depan rumah sakit. Jendral Ne Win memang pernah mengancam bahwa ”Tentara Birma tidak pernah diajarkan untuk menembak ke udara, tetapi lurus kedepan”.

Berita tentang putri Jendral Aung San membantu para demonstran menyebar ke seluruh negeri Birma. Namun kekejaman Jendral Ne Win betul-betul tidak terlihat oleh dunia, sehingga hanya dalam 4 (empat) hari antara 8 Agustus 1988 sampai 12 Agustus 1988, hampir 3000 mahasiswa dan aktivis mati ataupun luka berat ditembak oleh tentara. Suu Kyi-pun juga sempat berhadapan dengan para tentara dan nyaris ditembak. Mungkin karena ia putri Jendral Aung San, para tentara tidak menarik pelatuk senjata mereka.

..bersambung

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=352