Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Hartarto dan Habibie
Minggu, 15 April 12 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Telpon genggam saya pada Rabu 11 April 2012 minggu lalu berdering, dengan bertuliskan, ”Rumah pak Hartarto”. Dengan nada baritone yang khas, pak Hartarto langsung bertanya di telpon, ”Saya dengar yuli (kamu) sudah tidak di Pertamina lagi, ya ?”. Saya kemudian langsung mengiyakan dan menerima pertanyaannya lanjutan dari beliau, ”kenapa ?”. Untuk menjawabnya, saya mohon waktu untuk bertemu dan berdiskusi, daripada menjelaskan lewat telpon. ”Kebetulan kalau begitu, saya akan meluncurkan buku saya pada ulang tahun yang ke-80 di awal Juni 2012. Coba Hengki kesini untuk lihat dan baca draft buku saya”. 

Pada Kamis minggu lalu, saya akhirnya sempat berdiskusi panjang-lebar dengan pak Hartarto di kediamannya, sambil membaca beberapa bagian draft dari buku tulisannya. Fisiknya masih terkesan kuat dan pemikirannyapun masih terdengar jernih. Topik pembicaraan kami bergeser cepat, tergantung pada bagian draft buku yang sedang kami baca. Beliau mengulas tulisannya tentang kebijakan mengenai kerja sama perbatasan antar negara ASEAN (”jangan diperuncing ke arah permusuhan, tetapi harus mengarah pada kooperasi. Namun Indonesia harus cerdik”), ke masalah kemandirian energi (”Insinyur Indonesia perlu untuk tetap tekun dan terus memikirkan kemandirian energi”), tentang perlunya perbaikan aparat pajak (”peluang peningkatan pendapatan dari pajak masih sangat besar untuk kemajuan bangsa”), Gasifikasi batu bara (”Sudah saatnya kita konversi batu bara ke gas alam dan bahan bakar minyak ?”) dan banyak lagi.

Setelah membaca draft bukunya dan melihat foto-foto di dalam buku pak Hartarto, saya baru menyadari bahwa 30 tahun adalah sebuah jangka waktu yang cukup lama. Sangat banyak yang bisa kita pelajari dari pengalaman dan juga kebijakan yang telah diambil pada era tahun 1980-an sampai awal 1990-an, khususnya disaat beliau menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Indonesia mulai memasuki era Industrialisasi. Terlintas juga dalam pikiran saya, tentang idola saya lainnya, yaitu pak Habibie (lihat foto langka, yang kebetulan saya bisa berfoto bersama pak Hartarto, pak Habibie, pak Harto dan pak Sudharmono dalam satu scene). Kebetulan kedua tokoh teknolog bangsa tersebut telah sempat menginspirasi saya, dan saya kira mungkin juga menginspirasi banyak generasi insinyur muda pada saat itu.

Dari kaca mata saya yang mungkin sangat subyektif, ada beberapa lessons-learned perbedaan gaya kepemimpinan kedua tokoh Insinyur Indonesia ini, yang mungkin layak untuk kita cermati dan bisa dipetik pelajarannya. Sebagai contoh, Hartarto selalu ingin tetap berada pada tatanan kebijakan. Ia tidak pernah ingin untuk melakukan micro-management dan mencampuri pengelolaan korporasi, seperti Habibie, yang memimpin langsung sebagai Dirut PT DI (IPTN saat itu), PT PAL, dan PT Pindad selama puluhan tahun. Hartarto membiarkan perusahaan seperti PT Rekayasa Industri (Rekind) untuk hidup tumbuh alami sebagaimana layaknya sebuah korporasi, dengan berbagai kesulitan dan tantangannya. Hartarto jarang sekali mau masuk, untuk membahas masalah-masalah rinci korporasi.

Latar belakang Hartarto yang berkarier dalam perusahaan-perusahaan pabrik kertas yang relatif sulit, berbeda dengan latar belakang Habibie yang datangnya dari perusahaan megah di Jerman, seperti Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB). Latar belakang ini membuat segala kebijakan Hartarto lebih mengutamakan pada pengembangan perusahaan secara lebih berhemat. Sebagai contoh, Rekind pada awalnya hanya diberi dana uang segar sebesar US $ 50.000 dan ditekankan harus bisa hidup dengan uang sejumlah tersebut. Kebijakan pengembangan industri juga diarahkan pada kemitraan. Rekind tidak diminta untuk membangun industri peralatan pabrik, secara mandiri. Tetapi perusahaan-perusahaan BUMN lain (bukan Rekind), yang jusru didorong agar mampu membuat peralatan pabrik. Sangat berbeda konsepnya dengan PT IPTN yang didorong untuk mengembangkan secara sendiri seluruh kemampuan manufakturnya, tanpa melakukan kebijakan outsourcing dan kemitraan sedikitpun dengan perusahaan lokal ataupun BUMN lain.

Walaupun demikian Hartarto sangat alergi dengan BUMN binaan Departemen Perindustrian yang merugi. Setiap tahun selalu diadakan acara ritual, dimana direksi BUMN yang merugi dipaksa untuk berdiri di depan ruangan, dan disaksikan oleh seluruh jajaran staff dan Direksi BUMN lainnya yang memperoleh keuntungan. Sebagai insinyur muda, tertanam sejak awal dalam benak otak saya, bahwa perusahaan yang merugi adalah sesuatu yang aib. Demikian pula dengan target-target besar peran Departemen Perindustrian, tidak pernah luput dari fokusnya dan juga apa peran masing-masing BUMN dalam target tersebut. Seperti pada cover bukunya, Hartarto tidak lupa menuliskan angka-angka utama capaiannya sebagai Menteri perindustrian pada periode 1983 - 1993:

  1. Sektor Industri dalam PDB tumbuh dari 11.4% di tahun 1983, menjadi 22.3 % pada tahun1993
  2. Ekspor non-migas tumbuh dari $ 3,21 Milyar (dari total ekspor US $ 21,2 milyar) di tahun 1983 ke US $ 23.29 milyar (dari total ekspor $ 36.8 milyar) pada tahun 1993

Pada diskusi tersebut saya juga berkesempatan menyampaikan kepada beliau, bahwa dengan inisiatif pak Hartarto mendirikan Rekind, maka perusahaan tersebut sudah menghasilkan total pendapatan sekitar US $ 5 milyar sejak tahun 1981. Dimana pendapatan dari PPN bagi negara saja bisa mendekati US $ 500 juta. Angka ini belum termasuk deviden, Pajak penghasilan dan multiplier effects lainnya. Saya juga sempat mengucapkan terima kasih karena atas inisiatifnya, saya bisa mencari nafkah selama puluhan tahun, bekerja pada bidang yang sangat saya senangi dan menghasilkan karya-karya yang Insya Allah bermanfaat bagi Indonesia. Bila tidak ada inisiatif tersebut, mungkin semua pabrik-pabrik di Indonesia masih sampai hari ini, terus dibangun oleh orang asing.

Demikian liputan kami.

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=355