Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Impor, impor dan impor - jurus jitu Mustafa Abubakar
Sabtu, 20 April 13 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

"Apa arahan tugas kami, pak ?", tanya saya kepada Mustafa Abubakar, Menteri Negara BUMN, pada tanggal 4 Mei 2010. Pertanyaan tersebut saya ajukan sewaktu menerima amanah sebagai Komisaris PT Pertamina (persero). Pak Mustafa justru balik bertanya, "Hengki tahu apa yang saya lakukan, sewaktu menjadi Dirut Bulog ?".

Karena sudah menjadi kebiasaan saya untuk mempelajari tentang karya seseorang, saya langsung menjawab, "Bapak menerapkan kebijakan untuk menyetop impor beras, sewaktu memimpin Bulog". Dengan bersemangat pak Mustafha kemudian menjelaskan, "itu memang sebuah tantangan yang sangat luar biasa. Saya sangat sering ditakut-takuti dan diancam bahwa kalau Indonesia tidak mengimpor beras, maka akan sangat rawan, bila misalnya ada bencana. Tapi syukur alhamduilah dengan niat baik dan kerja keras seluruh jajaran Perum Bulog, selama 2 (dua) tahun Indonesia mampu swa-sembada beras kembali dan tidak perlu mengimpor beras".  

Mustafa kemudian menambahkan, "Dengan niat yang sama, saya minta Hengki bekerja sama dengan seluruh Direksi dan jajaran Pertamina untuk mengurangi impor BBM. Kalau bisa upayakan STOP Impor BBM !!", tegas Mustafa dengan nada yang agak tinggi pada kalimat terakhir. ”Bantu bangsa ini !!,...yang penting nawaitu, .....yang penting nawaitu”. Kata beliau memberikan penegasan. Saat itu juga darah saya langsung mulai mendidih dan kemudian menjawab dengan singkat, dengan tidak kalah bersemangat, " Insya Allah, pak”.

Pada bulan Agustus 2011, Mustafa terkena serangan jantung, sehingga Presiden SBY dengan terpaksa memberhentikannya dari jabatan Meneg BUMN. Hal ini karena kondisi kesehatannya dievaluasi oleh para dokter, sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengemban tugas berat seorang menteri. Dalam pidato Presiden saat pelaksanaan reshuffle kabinet, hanya Mustafa yang secara spesifik diberhentikan dengan hormat.

Sayang memang masyarakat Indonesia tidak banyak yang tahu tentang sepak terjang seorang Mustafa Abubakar. Ia memang tidak sepandai Dahlan Iskan dalam memanfaatkan media. Sehingga masyarakat banyak yang tidak sadar, bahwa setelah era Presiden Soeharto, Indonesia ternyata mampu lagi untuk mengulang kembali prestasi swasembada beras, yaitu pada tahun 2008 dan 2009. Sebagai Dirut Perum Bulog, Mustafa banyak berperan dalam pencapaian akbar tersebut. Agar prestasi kemandirian bangsa ini dapat diulang kembali, Mustafa kemudian menuliskan seluruh pengalamannya sewaktu menjadi Dirut Bulog, kedalam sebuah buku yang berjudul, "Jurus jitu mengatasi krisis – Pengalaman Mustafa Abubakar memimpin Bulog".

Buku tersebut diluncurkan pada tanggal 15 Oktober 2012. Sebuah tulisan yang apik dan perlu untuk dibaca oleh generasi penerus bangsa, khususnya mereka yang cinta akan kemandirian Indonesia. Dalam buku tersebut banyak diulas kiat-kiat Mustafa, seperti jurus jitu menyerap gabah dan beras petani, menstabilkan harga beras, ekspor beras, memberikan Raskin Award, memulihkan kepercayaan jajaran BULOG setelah terkena prahara korupsi, dan melaksanakan program surplus plus, yaitu sebuah program dimana Indonesia dapat surplus beras dan mampu untuk mengekspor beras ke mancanegara. Pengadaan beras Bulog saat itu bisa mencapai 3,2 juta ton (2008) dan 3,6 juta ton (2009). Ini pengadaan beras terbesar kepada petani Indonesia, sepanjang sejarah Bulog. 

Pada awal Maret 2013 lalu, tiba-tiba saya menerima telpon dari pak Mustafa. Setelah menanyakan bagaimana kabar saya dan juga kegiatan Panas bumi yang sedang saya geluti, beliau kemudian masuk ke topik pembicaraan yaitu defisit impor Migas di tahun 2012 yang mencapai US $ 5,1 milyard. Ini merupakan prestasi defisit impor Migas terburuk, dalam sejarah negeri ini. Nada pak Mustafa terkesan khawatir setelah membaca berita yang mengulas data Biro Pusat Statistik (BPS) tersebut.

Nampaknya pak Mustafa masih ingat bahwa pada tahun 2010 dan 2011, Indonesia sempat mengalami surplus ekspor-impor Migas, setelah defisit pada tahun 2009. Intinya dalam percakapan telpon tersebut, pak Mustafa meminta saya dan jajaran direksi Pertamina periode 2010-2011, untuk berbagi (share) pengalaman kepada direksi baru Pertamina, tentang kiat-kiat mengurangi impor Migas, khususnya mengurangi impor BBM. Dengan sharing tersebut, Mustafa berharap jajaran direksi Pertamina yang baru dan manajemen Pertamina di masa mendatang, mampu mengulang kembali kiat-kiat kemandirian pasokan BBM, dan sekaligus memperbaiki neraca ekspor-impor.

Namun untuk kali ini, saya hanya bisa menjawab lirih, "siap pak". 

Demikian sekelumit sharing.

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=372