Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Makro
Kuncinya adalah mengurangi defisit ekspor-impor Migas
Sabtu, 24 Agustus 13 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

Pada bulan Agustus 2012 tahun lalu, saya sempat meramal bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami kondisi yang mengkhawatirkan, seperti yang dialami pada hari-hari ini. Para pembaca pada website ini mendapat kesempatan pertama membaca analisa tersebut. Bagi yang belum sempat membacanya, silahkan untuk membaca pada link berikut. Jadi kondisi melemahnya Rupiah sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak tahun lalu dan tidak datang seketika.

Setelah membaca berbagai paket kebijakan Pemerintah dan insentif yang baru saja diluncurkan pada siang hari ini untuk mengatasi melemahnya Rupiah, dengan kesan seperti sebuah langkah cepat, saya rasanya sangat yakin-seyakin-nya, bahwa solusi Pemerintah tersebut tidak akan mujarab dalam jangka pendek.

Kenapa saya sangat yakin bahwa paket kebijakan Pemerintah tersebut tidak akan mujarab ?. Karena kebijakan dan inseftif yang diluncurkan tidak “menyasar” masalah utama penurunan devisa, yaitu defisit ekspor-impor, khususnya defisit di bidang Migas, Berikut data-data ekspor-impor Migas dalam US $ milyar selama 5 tahun terakhir (lihat chart dan tabel dibawah) : 

Defisit sampai Juni 2013 sudah sangat luar biasa yaitu US $ 5,9 milyar, nilainya hampir sebesar defisit setahun di 2012. Menurut saya, inilah salah satu penyebab utama jatuhnya nilai kurs Rupiah. Namun jika dilihat lebih teliti data diatas, ada suatu hal yang sangat menarik yaitu kejadian pada tahun 2010 dan 2011. Pada tahun-tahun tersebut ekspor-impor Migas Indonesia justru mengalami surplus secara total, dengan trend yang bahkan meningkat di 2011. Pada saat itu Kurs Rupiah terus bisa dipertahankan pada Rp 8000 sd Rp 9000, walaupun harga batu bara dan CPO sudah mulai jatuh.

Lalu bagaimana caranya membuat surplus ekspor-impor di bidang Migas pada tahun-tahun tersebut ?. 

Saat itu sebagai salah satu anggota Dewan Komisaris Pertamina, saya sangat merasakan kekompakan dan juga kerja keras pada jajaran Direksi dan Komisaris PT Pertamina (Persero) untuk bersama-sama mengurangi impor Migas, Menteri BUMN Mustafha Abubakar.adalah pelopor dan pemegang komandonya. Bu Evita Legowo – Dirjen Migas menjaga kran ekspor-impor. Ibu Anny Ratnawaty-Wamenkeu menjaga disisi Depkeu dan Fiskal. Lalu Pak Umar said, mantan Sekjen ESDM – menjaga disisi peraturan hukum dan regulasi. Sebagai pelaksana teknis di lapangan, saya menemani pak Edi Setianto (Mesin 73) selaku Direktur Pengolahan, untuk melaksanakan kebijakan mengurangi impor Migas dengan meningkatkan kemandirian produksi BBM oleh Pertamina.

Langkah-langkah yang kami lakukan saat itu antara lain :

  1. Mengolah sebanyak mugkin minyak mentah produksi Indonesia di kilang-kilang Pertamina dengan memperkecil penjualan kondensat dan minyak mentah ke luar negeri
  2. Meningkatkan produksi Premium dan Pertamax dengan membuat bahan peningkat nilai angka Oktan - High Octane Mogas Component (HOMC) secara mandiri. Caranya dengan mengganti seluruh katalis Platformer, sehingga untuk pertama kali, Indonesia tidak impor HOMC.
  3. Meningkatkan produksi Diesel (Solar) Pertamina dengan menurunkan flash point seluruh Hydrocracker, sehingga impor Solar mengecil.
  4. ....dan banyak lagi yang tidak bisa disebut satu per satu

Sangat disayangkan bahwa kebijakan kemandirian tersebut diatas, sudah tidak dilakukan lagi akhir-akhir ini sehingga impor Migas menjadi meningkat. Langkah-langkah tersebut sebenarnya sangat diketahui oleh seluruh jajaran Pertamina dan dapat dilakukan lagi saat ini juga untuk menyelamatkan nilai tukar kurs. Tentunya Pertamina harus melakukannya  bersama-sama dengan jajaran Pemerintah, khususnya ESDM dan SKK Migas.

Karena bila Indonesia mengimpor BBM dari Luar Negeri dalam persentase yang besar (misal > 60 %), maka akan sangat mudah ditebak waktunya oleh para pialang valuta asing. Tetapi bila impor ini dilakukan hanya untuk 30 % s/d 40% dari kebutuhan, maka akan relatif sulit ditebak oleh pihak manapun. Selain itu bila seluruh atau sebagian besar minyak mentah dan kondensat Indonesia diolah pada kilang-kilang Pertamina, maka kasus Rudi Rubiandini tidak akan pernah terjadi, karena tidak ada yang perlu ditenderkan dan diperjual-belikan oleh SKK Migas.

Demikian sharing dan saran saya.

Salam
Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=377