Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Profil
Ketika Presiden RI membatalkan keputusan hukuman mati, karena tekanan pihak asing
Selasa, 07 April 15 - by : Triharyo Soesilo

Untitled document

"Pak Ban, selamat tinggal. Jangan sedih. Empat hari lagi kita akan ketemu disana", kata Untung sambil menunjuk ke langit, disebuah hari Selasa pada akhir tahun 1966. Untung adalah pemimpin Gerakan 30 September (G-30-S), yang akhirnya dihukum mati oleh pemerintahan Soeharto. Sedangkan lawan bicaranya adalah Soebandrio yang rencananya akan dihukum mati pada hari Sabtu atau 4(empat) hari kemudian. Soebandrio adalah orang kedua di Indonesia, pada zaman era pemerintahan Soekarno. Dalam hitungan bulan, ia jatuh dari orang yang sangat berkuasa sebagai Wakil Perdana Menteri, kemudian diadili dan dihukum mati.

Dalam bukunya yang berjudul, "Kesaksianku tentang G-30-S", Soebandrio bercerita tentang kejadian selanjutnya :"Terus terang, setelah Untung di-eksekusi, saya benar-benar gelisah. Manusia mana yang tidak takut jika hari kematiannya sudah ditentukan. Tetapi inilah keajaiban, Presiden AS Lyndon Johnson dan Ratu Inggris Elizabeth kemudian mengirimkan surat kawat ke Soeharto." Kata Soebandrio melanjutkan, "anehnya isi kawat mereka hampir sama, yaitu memohon agar saya tidak dihukum mati."

Soebandrio akhirnya tidak jadi dihukum mati dan diubah menjadi hukuman seumur hidup. Ia akhirnya dibebaskan oleh Soeharto pada tahun 1995, karena alasan kesehatan. Ia kemudian menulis buku, yang diluncurkan pada tahun 2001, atau 3 (tiga) tahun setelah pemerintah Soeharto lengser. Buku ini memutar-balikkan semua penjelasan versi Orde Baru, tentang peristiwa Gerakan 30 September. Buku tersebut kurang mendapat liputan di media massa, karena Indonesia saat itu sedang mengalami euforia reformasi. Sebagai salah satu penuturan sejarah, tentu sulit mengetahui mana versi yang benar. Belum tentu versi Soebandrio adalah yang lebih benar. Tapi itulah sejarah, hanya waktulah yang akhirnya nanti bisa menguak, apa yang sebenar-benarnya terjadi.

Berikut ini perbedaan versi yang cukup kontroversial yang membedakan antara versi Orde Baru dan versi Soebandrio

Soekarno sakit

Versi orde baru:

Pada tahun 1965, Soekarno setelah dianalisa oleh dokter-dokter dari RRC, dinyatakan sakit parah dan akan meninggal dalam waktu dekat. Sehingga agar tidak terlambat, PKI kemudian melakukan kudeta dengan membunuh para Jendral TNI AD, yang disebut sebagai Dewan Jendral. Informasi tentang keberadaan Dewan Jendral diperoleh dari Dokumen Gilchrist.

Versi Soebandrio:

Sebenarnya Soekarno hanya masuk angin biasa dan tidak sakit keras. PKI tidak pernah berinisiasi untuk melakukan gerakan apapun. Skenario Soekarno sakit keras, dipublikasikan ke masyarakat, agar PKI masuk dalam jebakan "killing field", sehingga mudah untuk diberangus. Dokumen Gilchrist adalah dokumen asli yang dibuat oleh CIA. Perlu diingat bahwa Soebandrio saat itu memimpin Badan Pusat Intelijen, dimana Soekarno berkali-kali bertanya ke Soebandrio tentang Dokumen Gilchrist. Soebandrio selalu bilang itu dokumen asli. Sebagai informasi, Soebandrio juga adalah seorang dokter ahli bedah dan lulusan dokter terpandai. Ia mendampingi Soekarno setiap hari dan sangat mengetahui akan kondisi fisik Presiden-nya. Sejarah membuktikan bahwa Soekarno meninggal di tahun 1970 dan tidak pernah menderita sakit keras.

Siapakah Syam ?

Versi orde baru:

Syam Kamaruzaman adalah tangan kanan Aidit yang merupakan satu-satunya orang di jajaran petinggi PKI, yang mengatakan bahwa G-30-S adalah perintah dari Aidit.

Versi Soebandrio:

Syam adalah agen CIA yang berhasil disusupkan ke dalam organisasi PKI. Ia adalah orang pertama yang dihukum mati oleh pemerintahan Soeharto. Aidit sendiri dibunuh beberapa hari setelah peristiwa G-30-S, tanpa pernah diadili. Aidit tidak pernah memberikan kesaksiannya, sehingga hilanglah jejak kedua tokoh tersebut. Syam dan juga Untung, saat ditahan selalu berkomunikasi dengan Soebandrio di penjara. Kedua orang ini sangat berkeyakinan bahwa mereka tidak akan dihukum mati. "Soeharto pasti akan menyelamatkan saya", itulah kata-kata yang selalu diucapkan Untung.  

Banyak sekali informasi dan versi yang sangat jauh berbeda dari versi Orde baru, yang tentunya akan sangat menarik untuk dipelajari oleh para ahli sejarah. Soebandrio juga menceritakan adanya sebuah kejanggalan, dimana tiba-tiba Amerika Serikat pada bulan November 1965, mengapalkan bantuan obat-obatan dalam jumlah yang sangat besar. Ternyata kotak-kotak obat tersebut berisikan senjata untuk mempersenjatai pemuda dan TNI, dalam memberantas dan membunuh anggota PKI. Benang merah tulisan Soebandrio adalah bahwa G-30-S, sebenarnya disutradarai secara “cantik” oleh Amerika Serikat, yang khawatir akan penyebaran paham komunisme di Indonesia. Amerika Serikat dikala itu selalu membayangkan adanya efek domino terjadinya penyebaran paham komunis dari China, ke Vietnam sampai ke Indonesia. Soeharto mengetahui dan terlibat dalam gerakan ini.

Tanpa adanya pembatalan hukuman mati Soebandrio di tahun 1966, sejarah Gerakan 30 September 1965, mungkin hanya bisa dilihat dari sisi versi Orde Baru.

Salam
Hengki

 

 

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=390