Portal Karya Nyata Merah Putih
Rubrik : Agro & Biofuel
Berita baik tentang ARAM & prospek 1000 MW pembangkit listrik sekam padi
Senin, 02 Juni 08 - by : Triharyo (Hengki)
Setiap tahun Departemen Pertanian selalu membuat Angka Ramalan, atau disingkat ARAM, untuk produksi padi dalam satuan tonase Gabah Kering Giling (GKG). Awal bulan Mei 2008, jajaran Departemen Pertanian telah membuat ARAM untuk tahun 2008 dengan membandingkan ke tahun 2006 dan 2007. Berikut ini data-data dari hasil rapat tersebut (foto) :

* Tahun 2006 Produksi Padi Indonesia adalah 54,4 juta ton Gabah Kering Giling (GKG)

* Tahun 2007 Produksi Padi Indonesia adalah 57,0 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) – naik 4,8%

* Perkiraan ARAM I (semester-I) produksi padi di tahun 2008 adalah 58,2 juta ton GKG – naik 2,1 %

Namun ada 1(satu) hal yang tidak pernah dibahas oleh jajaran Departemen Pertanian, yaitu tentang potensi sekam padi dari GKG tersebut. Sebagaimana diketahui, setiap gabah padi mengandung 21% sekam padi. Jadi tahun ini, secara teoretis produksi sekam padi Indonesia bisa mencapai 12,5 juta ton, dimana setiap ton sekam padi mengadung energy (fuel) sekitar 3.500 kcal/ton sekam (batu bara sekitar 5.000 s/d 6.000 kcal per ton). Dapat dibayangkan bahwa energi dari sekam padi Indonesia saat ini, yang kira-kira setara dengan 6 s/d 7 juta ton batu bara, atau mampu memproduksi listrik sekitar 1000 MW, terus terbuang percuma.

Satu hal yang perlu diingat, berbeda dengan batu bara, sekam padi tidak pernah habis (renewable) dan mendapat karbon kredit untuk investasinya.

Di seluruh dunia seperti Amerika, Thailand, Philipine, Vietnam dan China, saat ini industri penggilingan padi-nya telah menuju ke industri yang terintegrasi. Di Indonesia beberapa industri penggilingan padi terintergrasi serupa telah dimulai. Sehingga sekam padi, dan juga produk-produk sampingan dari beras dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah. Sistem penggilingan padi yang saat ini dilakukan secara terpisah-pisah (melalui huller) hampir di seluruh Indonesia perlu untuk mulai ditinggalkan.

Demikian beberapa pemikiran kami

Salam

Hengki


From: itb77-bounce@bhaktiganesha.or.id [mailto:itb77-bounce@bhaktiganesha.or.id] On Behalf Of tanah air

Sent: Monday, June 02, 2008 4:45 PM

To: itb77@bhaktiganesha.or.id

Subject: [itb77] Re: Berita baik tentang ARAM & prospek 1000 MW pembangkit listrik sekam padi

Boss HQ, pembangkit sekam sudah 2 tahun yang lalu kami pikirkan untuk dibuat di Belitang OKU Timur atau di Tugu Mulyo Musi Rawas yang merupakan sentra padi di Sumsel dengan irigasi teknis sehingga tersedia sekam yang cukup banyak sepanjang tahun. Tapi kendalanya untuk mengcolect sekam tersebut butuh biaya yang besar dikarenakan infrastruktur yang buruk. Jika dibangun penggilingan terpadu, akan banyak kendala juga karena pada umumnya petani kita telah terikat secara moril dan materil pada penggilingan kecil yang tersebar melalui ijon dll. Penggilingan terpadu akan mematikan penggilingan kecil yang nota benenya milik penduduk setempat yang berakibat kecemburuan sosial, efeknya kepolitis. Jadi jika ini akan diwujudkan semua stake holder hendaknya satu komitmen dan bergandeng tangan bersama mewujudkannya. OK thanks ini sekedar info dari saya dilapangan.


Apa yang disampaikan rekan ”tanah air” ini sangat tepat dan memang saya alami juga. Setelah saya pelajari lebih dalam, rupanya strategi penggilingan padi secara terpisah memang diterapkan oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1972 atas rekomendasi World Bank. Jadi memang tidak mudah untuk merubah sesuatu yang sudah 36 tahun mengakar. Tapi saya kira disinilah ”challenge”-nya dan mohon jangan putus asa. “If there is a will there is a way”. Jangan lupa dalam 1 ton padi ada sekitar 200 kg sekam padi dan 36 kg silica yang harganya sekitar $ 0.53/kg untuk bahan baku pembuatan fiber optic. ”Debu” silica ini ditangkap sebagai abu gas buang saat pembakaran sekam padi dalam proses membangkitkan listrik.

Setelah memasuki bisnis padi bersama teman-teman PT Agrisbisnis ganesha dan juga memperbaiki pabrik-pabrik gula untuk meningkatkan industri penggilingan tebu, saya baru sadar bahwa sangat sedikit sekali alumni ITB yang mau masuk ke industri, yang sekarang justru sangat tumbuh pesat, yaitu di industri sawit, industri gula, industri karet, industri padi, industri ketela dll. Padahal produk-produk ini menduduki ranking top ten export non-migas Indonesia akhir-akhir ini.

Dalam setiap kesempatan bertemu dengan mahasiswa ITB dan memberikan paparan, saya selalu tampilkan angka-angka ini untuk menyadarkan para calon alumni ITB untuk tidak membuat kesalahan yang dibuat oleh angkatan kami.

Salam

Hengki

Portal Karya Nyata Merah Putih : http://www.triharyo.com
Versi Online : http://www.triharyo.com/?pilih=news&aksi=lihat&id=93